Jakarta, Properti Indonesia – Permintaan pada unit kondominium di Jakarta pada kuartal I 2021 terpantau masih belum pulih. Dalam laporan MarketBeat yang dirilis Cushman & Wakefield pada Kamis (6/5), tercatat, hanya 228 unit kondominium yang terserap oleh pasar pada kuartal pertama tahun ini atau menurun 94% dari sebanyak 3.797 unit yang terjual pada kuartal pertama 2020 (YoY).
Menurut Cushman, meskipun sejumlah konsumen saat ini terlihat mulai tertarik untuk membeli unit, namun justru banyak yang membatalkan transaksi. Hal ini tercermin pada tingkat penjualan yang berada di 93,4% atau meningkat sebanyak 0,4% dibandingkan kuartal pertama 2020. Sementara tingkat pra-penjualan menurun sebanyak 0,5% dari 61,7% pada akhir 2020 ke 61,2%.
Cushman memprediksi, dengan adanya kebijakan relaksasi PPN dari Pemerintah dan jumlah pasokan yang rendah, tingkat penjualan secara umum diperkirakan akan meningkat hingga akhir tahun. Meskipun, rata-rata tingkat kekosongan unit pada kondominium sedikit menurun ke 50,6%, dikarenakan unit eksisting baru masih berada dalam proses serah terima secara bertahap.
Adapun untuk tingkat pasokan, sebanyak 6.192 unit kondominium dari 6 proyek telah menyelesaikan proses konstruksi sehingga menambah total pasokan unit eksisting menjadi 321,6 ribu unit di kawasan Jakarta atau bertambah 101% dibanding kuartal pertama 2020 lalu.
Sementara itu, ada dua proyek yang dirilis pada kuartal pertama 2021 diantaranya Savyavasa (Tower 1-3) sebanyak 430 unit dan The Veranda sebanyak 172 unit. Kedua proyek ini termasuk dalam segmen kondominium kelas atas yang berlokasi di Jakarta Selatan.
Beberapa proyek mendatang telah mulai diperkenalkan ke pasar melalui proses nomor urut pendaftaran (NUP) untuk mengecek permintaan pasar. Pasokan pra-penjualan diperkirakan akan tetap stabil hingga kuartal kedua 2021.
Sementara itu, untuk harga sewa kondominium di Jakarta pada kuartal I 2021 tercatat mengalami pergerakan harga yang lamban. Kenaikan harga di Jakarta dan sekitarnya pada kuartal pertama tercatat hanya 0,2% dari kuartal sebelumnya atau berkisar Rp43,3 juta per meter persegi.
Hal ini disebabkan kondisi pasar belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19. Pemberian diskon, promo, dan subsidi uang muka dari pengembang masih banyak terlihat untuk mendongkrak transaksi, sementara harga pasar sekunder masih terlihat kompetitif.
Harga unit kondominium akan diprediksi naik secara perlahan selama 2021, seiring dengan kecilnya perkembangan permintaan di pasar, terutama pada proyek yang masih dalam konstruksi.