Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap menjadi salah satu teknologi yang sedang naik daun dan banyak digunakan pada rumah residensial. Tak heran bila teknologi ramah lingkungan berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) ini kerap digunakan masyarakat tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara berkembang.
Mengutip istilah “pandemi” yang sedang tren saat ini, fenomena yang terjadi pada PLTS Atap juga dapat disebut sebagai pandemi, namun dalam hal positif. Bila merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti pandemi adalah “wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas”. Perlahan tapi pasti, PLTS Atap telah digunakan di mana-mana mencakup lokal dan internasional.
Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), total pelanggan PLTS Atap terkoneksi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) atau biasa disebut sistem PLTS Atap On-Grid, mencapai kenaikan yang sangat signifikan atau lebih dari 350% dalam kurun waktu kurang dalam dua tahun.
Pada Januari 2018, tercatat hanya sekitar 351 pelanggan yang memasang PLTS Atap On-Grid. Sedangkan, pada Agustus 2019, jumlah pelanggan telah mencapai 1.329. Bahkan, merujuk dari data yang disebutkan oleh Liputan6.com, jumlah pelanggan PLTS Atap pada Juni 2020 telah mencapai 2.346 (naik 177% sejak Agustus 2019). Bila dirata-ratakan, ada sekitar 70 pelanggan baru PLTS Atap di Indonesia setiap bulannya, sejak Januari 2018.
Semangat penggunaan PLTS Atap di Indonesia juga ditangkap oleh berbagai kalangan, baik itu pemerintah, akademis, industri, dan juga termasuk diantaranya Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), yang mencanangkan Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap guna mendorong dan mempercepat PLTS Atap di perumahan, fasilitas umum, gedung perkantoran, dan pemerintahan.
Dewasa ini, di Indonesia, masih banyak masyarakat yang menilai bahwa teknologi PLTS Atap itu masih mahal. Berdasarkan hasil survey terkait potensi penggunaan PLTS Atap yang dilakukan oleh PT Alva Energi, Perusahaan EPC PLTS, terhadap lebih dari 100 responden, lebih dari 59% responden menyatakan ketertarikan positif dan lebih dari 35% responden menyatakan mempertimbangkan untuk memasang teknologi panel surya. Akan tetapi, dari hasil survey yang sama, tercatat bahwa lebih dari 50% responden menyatakan bahwa biaya pemasangan menjadi hal yang sangat penting dalam keputusan instalasi PLTS Atap.
Sedangkan, 30% responden menyatakan bahwa waktu pengembalian investasi (payback period) juga menjadi hal pertimbangan sangat penting. Adapun, 40% responden menyatakan bahwa dampak lingkungan merupakan hal yang sangat penting. Dapat disimpulkan, bahwa dua pertimbangan utama dari pelanggan atau calon pelanggan adalah faktor biaya atau investasi, dan faktor lingkungan.
Dengan teknologi panel surya dan inverter yang semakin efisien, dan meratanya edukasi akan pentingnya penurunan jejak karbon dan emisi, tidak menutup kemungkinan PLTS Atap pada residensial akan menjadi dasar komponen rumah pada masa depan. Hal serupa terjadi pada komponen alat rumah tangga lainnya, seperti misalnya mesin cuci yang dinilai alat yang sangat mewah ketika pertama kali dijual di pasaran. Tetapi, pada saat ini, mesin cuci merupakan komponen dasar pada rumah, dan hampir dimiliki orang kebanyakan, khususnya di perkotaan.
Bahwa biaya komponen PLTS Atap semakin efisien, didukung oleh hasil kajian oleh International Renewable Energy Agency (IRENA), yang menyebutkan bahwa biaya modul solar panel telah menurun 80-85% antara tahun 2009 dan 2016. Hal ini berdampak positif pada instalasi PLTS Atap secara global. Pada rentang waktu 2010 hingga 2016, biaya listrik dari PLTS Atap telah turun sebanyak 45% di negara bagian California, Amerika Serikat dan 66% pada berbagai kota di negara Jerman. Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Pusat Riset Energi Terbarukan Wilayah Tropis (TREC) Universitas Indonesia, sistem PLTS secara global (meliputi 80% negara di dunia) telah mencapai kondisi “Grid Parity”, kondisi dimana Biaya Pokok Penyediaan (BPP) dari PLTS Atap akan sama atau lebih murah dibandingkan dengan BPP PLN. Berdasarkan hasil kajian, Indonesia akan mencapai kondisi Grid Parity pada rentang tahun 2019-2023. Saat kondisi grid parity tercapai, maka pemasangan PLTS akan meningkat secara eksponensial.
Pasar properti di Indonesia juga sudah mulai meramaikan penggunaan PLTS Atap. Developer kecil hingga besar tercatat sudah mulai menawarkan konsep rumah hijau (green housing) dengan teknologi PLTS Atap yang tersemat pada setiap rumah. Sebagai contoh, Anvaya Townhouse di Bogor yang dibangun oleh PT Anvaya Developer Indonesia, Klaster Almanda Residence di Tangerang yang dikembangkan oleh AKI Group, dan Klaster Vida di Bekasi yang dikembangkan oleh PT PGN.
Adapun dari sisi pengguna PLTS Atap pada rumah, dapat merasakan manfaat secara langsung dan tidak langsung. Dari hasil interview yang dilakukan oleh PT. Alva Energi Lestari terhadap salah satu pelanggan yang telah melakukan instalasi PLTS Atap pada rumahnya, pengguna merasakan manfaat langsung berupa penghematan biaya listrik lebih dari 30%. Adapun manfaat tidak langsung, berupa pengurangan jejak karbon.
Penulis adalah pengamat dan praktisi Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan latar belakang pendidikan S3 di Technical University of Munich, Jerman; dengan pengalaman kerja lebih dari 10 tahun di dunia internasional (Indonesia, Singapura, dan Jerman). Saat ini penulis menjabat sebagai direksi perusahaan EPC EBT di Indonesia dan juga anggota Asosiasi Energi Surya Indonesia.