Jakarta, Properti Indonesia - Pelaksanaan Pemilu Presiden 2024-2029 yang berlangsung kondusif pada Februari lalu, secara tidak langsung turut menstimulasi banyak perusahaan untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala dan memotivasi mereka untuk menambah ruang baru atau memulai kembali rencana yang sempat tertunda untuk berkantor di gedung perkantoran Jakarta.
Konsultan Leads Property Service Indonesia dalam laporannya bertajuk Jakarta Property Market Insight Q1 2024 menyebutkan, selain pemilu yang kondusif, santernya pemilik gedung yang menawarkan paket sewa kantor dengan harga yang lebih kompetitif sebagai strategi mempertahankan daya tarik pasar merupakan sejumlah indikator bakal meningkatnya permintaan ruang kantor pada kuartal mendatang.
“Volume sewa bahkan diperkirakan akan bergerak menuju tingkat sebelum pandemi, sebagai hasil dari perbaikan lanskap makroekonomi dan permintaan perkantoran selama beberapa kuartal berturut-turut,” ujar Hendra Hartono, CEO Leads Property Service Indonesia dalam keterangannya, Senin (22/4) lalu.
Terlepas dari kondisi di atas, sebut Hendra, pasar perkantoran Jakarta diperkirakan masih belum mendapatkan tambahan pasokan dikarenakan tidak adanya peluncuran proyek baru dalam jangka pendek akibat kelebihan pasokan, dan secara paralel rendahnya imbal hasil yang masih membayangi investor.
Pergeseran ini mengakibatkan stok kumulatif tetap stabil di angka 7,45 juta meter persegi. Satu-satunya proyek pipeline yang masuk dalam daftar adalah proyek Indonesia-1, namun dijadwalkan tertunda hingga tahun berikutnya.
Sepanjang kuartal I 2024, animo para penghuni terhadap pasar perkantoran di area CBD Jakarta juga menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini dibuktikan dengan serapan bersih yang mencapai 15.425 meter persegi ruang perkantoran atau serapan tertinggi pada kuartal pertama dalam tiga tahun terakhir. Adapun, perusahaan berbasis teknologi, keuangan dan jasa diperkirakan masih akan mendominasi pasar perkantoran di Jakarta, khususnya yang berlokasi dekat dengan transportasi umum.