Jakarta, Properti Indonesia – Dalam beberapa waktu terakhir, harga rumah di Amerika Serikat terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari S&P CoreLogic Case-Shiller, yang dilansir dari laman CNN menyebutkan jika harga rumah pada Januari 2022 naik 19,2 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Wilayah yang mengalami kenaikan tertinggi yakni Phoenix, Tampa dan Miami. Di Phoenix kenaikan harga rumah mencapai 32,6 persen, Tampa naik 30,8 persen, dan Miami naik hingga 28,1 persen. Kenaikan harga rumah ini diprediksi akan berlanjut hingga lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kenaikan harga rumah ini merupakan yang tertinggi dalam jangka waktu 35 tahun. Penurunan kasus Covid-19 dan dimulainya kembali kegiatan ekonomi secara normal memicu inflasi dan bank sentral AS juga telah merespon dengan menaikkan suku bunga acuan. Hal inilah yang akan mempengaruhi suku bunga pada segmen kredit rumah.
Hingga Mei 2022, inflasi di Amerika Serikat berada di level tertinggi yakni 8,6 persen (yoy) sejak tahun 1981. Meskipun begitu, pembeli tetap tertarik dengan properti termasuk perumahan. Padahal bunga kredit rumah hampir 5% dan telah membatasi kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pinjaman bank.
Hal yang sama dialami oleh Turki yang mengalami inflasi hingga 70 persen pada April 2022 dan merupakan rekor tertinggi sejak 20 tahun terakhir. Hal ini dikarenakan konflik Rusia-Ukraina yang membuat harga energi dan komoditas meroket di negara tersebut. Harga residensial di Kota Istanbul, Turki juga mengalami kenaikan sebesar 63,2 persen selama satu tahun terakhir.
Lantas bagaimana dengan Indonesia?Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi Indonesia berada di level 3,55 persen dan Bank Indonesia memperkirakan inflasi hingga akhir tahun bisa mencapai 4,2 persen.
Prediksi naiknya inflasi ini menjadi salah satu yang harus diperhatikan dalam sektor properti. Terlebih dalam kondisi aktual harga sejumlah material bahan bangunan telah melonjak hingga 5,06 persen, sehingga berdampak pada biaya pembangunan rumah.
CEO Leads Properti Indonesia, Hendra Hartono mengatakan, inflasi bisa saja menjadi peluang bagi konsumen properti. Karena salah satu cara untuk hedging inflasi adalah dengan membeli atau investasi properti terutama properti yang sudah jadi.
“Jadi para pengembang yang masih punya stok apartemen, perkantoran, ruko, dan lain-lain harusnya siap-siap panen karena banyak yang melihat hal ini sebagai peluang untuk hedging inflasi,” ujar Hendra kepada Properti Indonesia.
Hendra menambahkan, kalau inflasi nantinya meninggi bisa jadi akan ada proyek properti yang berpotensi terlambat untuk didelivery dan bukan tak mungkin pengembang akan merevisi harga atau melakukan refund. Karena itu, disarankan untuk membeli properti yang sudah jadi. Terlebih saat ini banyak properti yang over supply.
Time to Buy
Sementara itu, Metta Anggraini selaku Financial Planner mengatakan, bahwa jika saat ini memiliki dana lebih sebaiknya pilih investasi properti sebelum nantinya inflasi semakin tinggi.
“Satu sisi ketika harga komoditas naik, orang berusaha mengamankan aset dan kembali lagi nilai aset yang aman, orang bisa memilih berinvestasi properti sebagai bentuk mengamankan nilai aset miliknya. Prospek properti juga masih cukup baik ke depannya. Apalagi dengan kebijakan pemerintah yang banyak mendukung terutama suku bunga di Indonesia masih terkendali. Walaupun mungkin kita masih lihat selama beberapa bulan ke depan, karena mau tidak mau tergantung dengan global sementara di Amerika mungkin inflasi masih naik otomatis akan mempengaruhi kita. Namun kita msih cukup aman,” jelas Metta.
Dirinya mengatakan, kebutuhan rumah itu akan selalu ada di Indonesia baik dari tipe standar, menengah, hingga mewah. Kenaikan harga properti rata-rata setiap tahun terus tinggi. Selama dua tahun ini cukup tertahan akibat pandemi, artinya kemungkinan harga properti akan naik lebih tinggi dari inflasi. Inilah yang menarik investor untuk berinvestasi properti.
“Kalau untuk orang-orang yang pertama kali membeli properti untuk ditinggali, mereka harus berhitung dengan cermat apakah kemampuan bayar cicilannya cukup atau tidak. Jangan sampai nantinya menguras keuangan pribadi mereka. Tetapi kalau investor yang sudah biasa investasi aset di berbagai hunian atau lokasi bisnis tentu ini layak jadi pertimbangan karena akan memberikan return lebih tinggi,” tutup Metta.