Jakarta, Properti Indonesia – Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memperoleh outlook rating ‘positif’ dari Moody’s setelah lembaga pemeringkat tersebut mengkaji ulang kinerja perusahaan, posisi finansial, dan likuiditas, yang sebelumnya mendapatkan rating ‘stable’.
Pada sembilan bulan pertama tahun 2021, LPKR mencatat pendapatan sebesar Rp10,9 triliun atau naik 44 persen dan EBITDA naik 84 persen menjadi Rp2,9 triliun. Jika disesuaikan dengan dampak konsolidasi LMIRT pada kuartal I 2021, pendapatan perusahaan meningkat 28,6 persen menjadi Rp9,8 triliun dan EBITDA naik 43,9% menjadi Rp2,3 triliun.
“Di tengah pandemi Covid-19, bisnis real estat naik 26 persen menjadi Rp3,0 triliun dari Rp2,4 triliun. Baiknya kinerja perusahaan pada lini bisnis properti juga didukung oleh pencapaian pra penjualan yang terus melampaui target perusahaan,” terang manajemen LPKR, dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/11).
LPKR mengantongi pra penjualan pada kuartal III 2021 sebesar Rp1,6 triliun sehingga selama sembilan bulan pertama tahun 2021, pra penjualan yang dicatat Lippo mencapai Rp3,9 triliun. Nilai tersebut setara dengan 93 persen dari target pra penjualan tahun 2021 yang mencapai Rp4,2 triliun.
“Moody’s mencatat kemungkinan menaikkan rating LPKR jika arus kas operasi pada level perusahaan holding berada di area positif dan perusahaan tidak bergantung kepada penjualan aset, serta rasio hutang menunjukkan perbaikan,” jelas manajemen.
Adapun peringkat perusahaan tetap B3, sedangkan perubahan outlook menjadi “Positif” merupakan bukti perbaikan arus kas operasi perusahaan holding melalui pertumbuhan yang kuat pada pra penjualan, penyelesaian proyek yang sedang berjalan, dividen anak perusahaan serta negosiasi ulang biaya subsidi sewa yang lebih produktif. Lebih lanjut, Moody’s mencatat bahwa posisi kas perusahaan cukup untuk menutupi biaya selama 18 bulan ke depan, tanpa bergantung pada penjualan aset.
Moody’s juga telah menargetkan target pra penjualan LPKR untuk tahun 2021 sebesar 34 persen dari Rp3,5 triliun menjadi Rp4,7 triliun, karena dalam 10 bulan pertama tahun 2021 pra penjualan yang tercatat sudah mencapai Rp4,4 triliun. Kemudian menetapkan target pra penjualan untuk tahun 2022 sebesar Rp5,2 triliun yang mencerminkan keyakinan akan keberlanjutan bisnis residensial dengan harga terjangkau milik perusahaan.