Jakata, Properti Indonesia – Beberapa hari terakhir, pemberitaan mengenai kembali melonjaknya kasus Covid-19 pada klaster perkantoran sempat viral di beberapa media maupun sosial media di tanah air. Berdasarkan data dari Pemprov DKI Jakarta, peningkatan kasus Covid-19 di klaster perkantoran pada 5-11 April 2021 sebanyak 157 kasus positif di 78 perkantoran serta pada periode 12-18 April 2021 dengan peningkatan jumlah menjadi 425 kasus dari 177 kantor.
Dengan meningkatnya jumlah kasus Covid-19, menurut Kepala Disnakertrans Andri Yansah pada Selasa (27/4) lalu, Pemprov DKI Jakarta telah menutup 2.114 perusahaan sejak 11 Januari hingga 26 April lalu.
Dari total perusahaan yang ditutup, paling banyak berada di Jakarta Selatan yaitu sebanyak 824 perkantoran, kemudian Jakarta Pusat 652 perkantoran, Jakarta Barat 270 perkantoran, dan Jakarta Utara 201 perkantoran. Sementara ada 21 kantor yang ditutup karena melanggar protokol kesehatan dan paling banyak berada di Jakarta Selatan.
Ironinya, adanya penutupan sejumlah perkantoran tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan kinerja sub sektor perkantoran di wilayah DKI Jakarta. Konsultan Cushman & Wakefield dalam laporannya mencatat, harga sewa ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta masih mengalami penurunan pada kuartal 1 2021. Hal ini seiring masih lemahnya permintaan dan turunnya tingkat hunian. Bahkan, Cushman memproyeksi jika ke depannya bisnis perkantoran masih akan mengalami pelemahan akibat dampak pandemi yang masih berlanjut.
Yang menarik, Head of Research Consultancy Savills, Anton Sitorus mengatakan, melonjaknya kasus Covid-19 tidak ada hubungannya dengan permintaan ruang kantor. Faktor yang lebih mempengaruhi berasal dari faktor ekonomi dan bisnis.
“Yang mempengaruhi permintaan ruang kantor komersial itu lebih kepada faktor ekonomi, faktor bisnis, jadi masalah Covid-19 ini tidak berpengaruh. Yang berpengaruh itu, karena Covid bisnis perusahaan-perusahaan menjadi menurun. Jadi permintaan menurun, ada yang ruang kantornya diperkecil bahkan ada yang tutup tapi bukan karena masalah klaster perkantorannya,” ujar Anton kepada Properti Indonesia, Kamis (29/4).
Menurutnya, naiknya kasus Covid-19 di tahun lalu juga sempat membuat sejumlah perusahaan menerapkan work from home (WFH) untuk sementara waktu. "Dan untuk di tahun ini, tren WFH akan kembali meningkat tergantung sampai berapa lama pandemi berlangsung," sebutnya.
Lebih lanjut Anton menambahkan, hal tersulit saat ini adalah memprediksi kapan berakhirnya pandemi. "Sebagai contoh, tahun lalu sempat diperkirakan jika vaksin sudah berjalan semuanya akan kembali normal, nyatanya ketika vaksin sudah diterapkan di beberapa negara justru semakin parah. Yang jelas kalau pandemi sudah selesai diharapkan kondisi pasar kembali normal,” katanya.