Hingga Semester I 2021 Penjualan Kondominium di Jakarta Masih Stagnan

Hingga Semester I 2021 Penjualan Kondominium di Jakarta Masih Stagnan
Foto apartemen di Jakarta (Dok. Properti Indonesia)

Jakarta, Properti Indonesia – Pasar kondominium di Jakarta terus mengalami dampak negatif akibat pandemi. Kinerja penjualan tetap stagnan karena sentimen beli yang masih lemah dan ketidakpastian. Kemudian adanya kasus varian Delta yang melonjak pada bulan Juni turut merusak pemulihan pasar pada tahun 2021. 

Knight Frank Indonesia dalam laporan terbarunya ‘Jakarta Condominium Market Overview 1H 2021’, dikutip Senin (27/12), penambahan pasokan unit kondominium baru, secara kumulatif meningkat sedikit atau hanya sebesar 0,9 persen dari akhir tahun 2020 menjadi 223.635 unit, mewakili pasokan tambahan 1.944 unit di paruh pertama tahun 2021.

Pasokan yang ada tetap didominasi oleh segmen menengah sebanyak 41,3 persen dan sebagian besar stok kondominium di Jakarta Selatan (29,7 persen) dan di Jakarta Selatan (11,3 persen).

Pada paruh pertama tahun 2021, pasar mencatat tingkat pra-penjualan sebesar 62,5 persen dan pengembang mulai menunjukkan proyek baru dari lima proyek selama periode tersebut. Aktivitas di pasar kondominium Jakarta tetap stagnan meskipun pemerintah telah membebaskan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk rumah tapak dan apartemen baru (1 Maret – 31 Agustus 2021), dengan harga di bawah Rp2 miliar dan harga di antara Rp2 miliar – Rp5 miliar untuk meningkatkan investasi properti. Permintaan tetap rendah sejak tahun 2014, hanya mewakili 2.510 unit pada paruh pertama tahun 2021 dibandingkan dengan 3.805 unit pada periode sebelumnya.

Pasokan kondominium selama periode semester 2 tahun 2021 hingga tahun 2024 tercatat sebanyak 38.278 unit atau mewakili sekitar 17 persen dari stok yang ada. Dimana, 93 persen dari total pasokan baru akan berlokasi di area non-CBD. Sementara di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan memberikan kontribusi terbesar dengan porsi masing-masing sebesar 29 persen dan 41 persen. Harga jual rata-rata dalam Rupiah turun 4,8 persen (year on year) menjadi Rp34,7 juta per meter persegi.

Kemudian pengembang masih diperkirakan akan terus mengurangi proyek-proyek bertingkat tinggi di Jakarta untuk sementara, dan kebanyakan dari mereka fokus pada proyek-proyek perumahan menengah ke bawah dan perumahan bertingkat rendah di pinggiran Jakarta karena harga tanah yang lebih rendah dan ketersediaan cadangan tanah yang masih bisa dikembangkan.

Tags
#apartemen #kondominium #Berita Properti #properti #Jakarta #knight frank