Jakarta, Properti Indonesia – Harga properti komersial di Amerika Serikat telah jatuh 13 persen sepanjang tahun 2022 sekaligus menjadi penurunan terbesar sejak krisis keuangan global pada tahun 2008. Tak hanya itu, suku bunga federal reserve (the fed) yang saat ini berada di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen cukup berdampak pada pemangkasan nilai properti.
Dilansir dari laman Bloomberg, Senin (7/11), kinerja pusat perbelanjaan sangat terpuruk dengan penurunan harga hingga 23 persen dari puncaknya baru-baru ini, menurut indeks harga Oktober Green Street. Disusul apartemen dan pergudangan yang masing-masing turun 17 persen, serta harga kantor turun 14 persen.
Peneliti di perusahaan analitik real estat, Peter Rothemund mengatakan, penurunan pada semua jenis properti komersial merupakan yang terbesar sejak krisis keuangan tahun 2008, ketika harga anjlok sekitar 35 persen saat itu. Pada Oktober lalu, harga properti turun 7 persen. Nilai properti menjadi turun karena biaya pinjaman yang lebih tinggi memotong potensi pengembalian bagi investor.
The Fed juga agresif menaikkan suku bunga acuannya untuk mengendalikan inflasi. Kenaikan sebesar 75 basis poin pada minggu ini juga merupakan kenaikan keempat Fed. “Karena suku bunga terus naik dan naik, harga properti semakin turun,” ujar Rothemund.