Gelar Rakernas II, AREBI Komit untuk Tingkatkan Profesionalitas Anggota dan Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Gelar Rakernas II, AREBI Komit untuk Tingkatkan Profesionalitas Anggota dan Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Perhelatan AREBI "The Biggest Real Estate Summit 2022" - "Go Digital or Go Home", Kamis (24/11). (Dok. AREBI)

Jakarta, Properti Indonesia – Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) menggelar Rapat Kerja Nasional II (Rakernas) 22 pada Rabu (23/11), dengan tema “Kompeten, Profesional, dan Berintegritas”,  yang bertujuan untuk melakukan evaluasi dan konsolidasi organisasi. AREBI juga menggelar perhelatan “The Biggest Real Estate Summit 2022” bertema “Go Digital Or Go Home” pada Kamis (24/11) dengan tujuan untuk menambah skill, networking, dan new insight bagi agen properti.

“AREBI sebagai wadah para broker properti di Indonesia akan terus meningkatkan profesionalisme anggotanya. Dalam setiap kondisi pasti ada peluang. Bisnis agen properti tidak ada matinya. Dalam kondisi apapun agen properti bisa survive dan berkembang,” ujar Lukas Bong, Ketua Umum AREBI dalam keterangannya, Kamis (24/11).

Direktur Rumah Umum dan Komersial Direktorat Jenderal Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Fitrah Nur menyampaikan bahwa pemenuhan kebutuhan perumahan di Indonesia sangat besar. Angka backlog tahun 2020 mencapai 12,75 juta unit. Untuk itu diperlukan kerjasama stake holder perumahan agar kebutuhan perumahan bisa terpenuhi, termasuk dari agen properti anggota AREBI. Apalagi kontribusi sektor perumahan terhadap ekonomi sangat besar karena memiliki multiplier effect.

Sementara Founder AREBI, FIABCI World President – Elect 2022-2023 President, FIABCI – Indonesia, Managing Director Ciputra Group, Budiarsa Sastrawinata mengatakan, AREBI harus terus menjadi wadah pembinaan bagi broker properti agar bekerja profesional sehingga transaksi properti menjadi aman dan nyaman.

“Agen properti juga harus memanfaatkan teknologi karena dunia digital memiliki banyak manfaat dan saat ini sudah dimanfaatkan oleh banyak sektor usaha,” imbuh Budiarsa.  

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum AREBI Lukas Bong juga mengatakan jika tantangan yang dihadapi oleh agen properti ke depannya akan semakin berat. Hal ini dikarenakan agen properti dalam bekerja tidak bisa lagi menggunakan cara lama, konvensional, tetapi harus lebih kreatif dan inovatif. Yaitu menggunakan dan memanfaatkan teknologi di era digital.

“Broker properti harus bekerja lebih profesional di saat seperti ini agar bisa meraih transaksi. Konsumen sudah semakin kritis dan teredukasi. Mereka meminta pelayanan parpurna dan menyeluruh dari broker properti. Untuk itu AREBI akan terus membuat berbagai kegiatan untuk menambah pengetahuan, keterampilan, dan networking seperti training, pelatihan, seminar, talk show, dan lain-lain,” papar Lukas.

AREBI juga akan terus mendorong profesionalisme broker properti melalui sertifikat atau lisensi. Juga akan terus berkolaborasi dengan pemerintah bersama stake holder properti lainnya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. “AREBI juga akan terus mengoptimalkan Yayasan AREBI, dimana di dalamnya ada AREBI care dan AREBI Digital Indonesia agar broker properti bisa memanfaatkan teknologi untuk menjalankan pekerjaannya,” kata Lukas.

Lebih lanjut, di tahun 2022 ini pasar properti terus bertumbuh dengan didorong beberapa faktor. Antara lain, pandemi Covid-19 yang terkendali, relaksasi dan banyaknya stimulus untuk sektor prpperti, serta strategi jitu pengembang seperti memasarkan rumah di bawah Rp1 miliar dengan memperkecil luasan tanah dan bangunan, juga desain yang menarik dan fungsional.

Pada tahun 2023 mendatang, AREBI optimis pasar properti tetap tumbuh walaupun tekanan terhadap properti cukup besar seperti tingkat inflasi, naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-7 Day (Reverse) Repo Rate (BI7DRR), ancaman resesi tahun 2023, dan memasuki tahun politik.

“Kebutuhan properti di Indonesia sangat besar akibat populasi yang terus meningkat, backlog perumahan tinggi, dan properti tidak hanya kebutuhan utama tetapi juga menjadi investasi yang aman dan menguntungkan,” jelasnya.

AREBI meminta agar pemerintah kembali melakukan relaksasi di sektor properti dan memberikan berbagai stimulus untuk mendorong industri properti di tengah semakin banyaknya tekanan. Seperti pemberian kembali insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen.

Time to buy properti terus berlanjut buat investor maupun end user karena pengembang akan menekan harga supaya produk tetap laku. Perbankan juga masih memberikan suku bunga yang bersahabat. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan agar semakin memudahkan aksesibilitas kawasan. Nanti kalau ekonomi pulih, harga properti pasti akan meroket lagi,” tutup Lukas.

Tags
#hunian #rumah #Berita Properti #properti #AREBI