Jakarta, Properti Indonesia - Di sebuah sudut ruang di HARRIS Suites fX Sudirman, Jakarta, Presiden Direktur & CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) Anthony Prabowo Susilo duduk dengan tenang. Di layar ponsel Samsung Z Fold seri terbaru miliknya, deretan angka dan grafik bergerak naik turun, seperti denyut nadi bisnis yang tak pernah benar-benar stabil.
Dari layar kecil itulah, arah besar perusahaan ini dirumuskan. Maklum, di tengah industri properti yang gemar memamerkan ekspansi dan total akumulasi lahan, Paradise Indonesia justru mengambil arah berbeda. Alih-alih berlomba memperluas landbank ke pinggiran kota, perusahaan ini memilih strategi yang nyaris terdengar tidak ambisius yakni dengan memaksimalkan apa yang sudah dimiliki.
Bagi Anthony, tahun 2026 bukan lagi soal seberapa banyak tanah yang bisa diakuisisi, melainkan seberapa jauh aset yang ada bisa terus menghasilkan. “Kami tidak hanya mengejar ekstensifikasi,” ujarnya datar. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi di industri yang terbiasa tumbuh dengan ekspansi horizontal, pilihan itu nyaris seperti melawan arus. "Karena kami tidak hanya melakukan ekstensifikasi yang sekadar caplok lahan," ujar Anthony dengan nada tenang.
Pria berkacamata ini memaparkan strategi unik yang ia sebut sebagai intensifikasi aset. Alih-alih hanya agresif menambah cadangan lahan (landbank), INPP memilih memaksimalkan potensi dari aset yang sudah ada.
Di Bandung, 23 Paskal Shopping Center diperluas sekitar 20 persen bukan karena ambisius, tapi karena daftar tunggu penyewa yang tak kunjung habis hingga bertahun-tahun. Pun begitu di Jakarta, fX Sudirman yang menambah ruang pertemuan dan Sheraton Hotels & Resorts yang menambah fasilitas spa. Tidak ada gebrakan besar. Hanya penyesuaian-penyesuaian kecil yang, jika dilihat sepintas, nyaris tak layak menjadi berita utama. Namun justru di situlah letak strateginya, dengan memperbesar pendapatan berulang tanpa harus membuka terlalu banyak pekerjaan baru.
Membangun kepercayaan
Kisah panjang kesuksesan Paradise Indonesia hari ini tentu bukan sekadar soal renovasi spa di Hotel Sheraton ataupun penambahan luas area sewa pusat perbelanjaan di Semarang saja. Sebab, ada narasi penebusan keringat dan air mata di masa lalu yang dimulai dari koridor Jalan Antasari, Jakarta Selatan.

Apartemen Antasari Place
Cerita ini tidak dimulai dengan seremoni potong pita yang megah, melainkan dari sebuah reruntuhan harapan di koridor Jakarta Selatan. Pada tahun 2020, di tengah hantaman pandemi yang melumpuhkan ekonomi global, Paradise Indonesia justru melangkah ke zona merah. Mereka diundang sebagai investor untuk menyelamatkan Antasari Place, sebuah proyek apartemen yang kala itu menjadi monumen kegagalan karena mangkrak dan meninggalkan luka bagi ratusan konsumennya. Sebuah keputusan yang, dalam bahasa bisnis, sering dibungkus sebagai “peluang”, padahal dalam praktiknya lebih mirip perjudian.
Anthony Prabowo Susilo, mengenang masa itu sebagai uji nyali. Namun, setelah proses panjang, salah satunya proses homologasi yang transparan, Anthony dan timnya berhasil mengubah skeptisisme menjadi kepercayaan konsumen.
Kini, proyek itu hampir seratus persen diserahkan kepada pemilik. Tower pertama sudah pecah rekor penjualan, menyisakan hanya beberapa unit. "Kami bukan hanya memberikan janji, tapi janji itu sudah terwujud," kata Anthony pada suatu kesempatan. Keberhasilan menghidupkan kembali proyek “mati” ini menjadi bukti bahwa di tangan pengembang yang tepat, sengketa hukum bisa berubah menjadi keuntungan ekonomi.
Setelah berhasil keluar dari proyek bermasalah, Paradise tampaknya mulai kembali percaya diri. Arah ekspansi pun bergeser, kali ini ke timur Indonesia. Memasuki awal Februari 2026 lalu, tepatnya di Kota Balikpapan, kota yang kini menjadi gerbang utama menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), mereka meluncurkan 88 Plaza. Proyek ini bukan sekadar deretan ruko biasa, melainkan sebuah visi pusat komersial dengan konsep open plaza seluas delapan hektar. Respon pasar seolah mengonfirmasi kejelian INPP dibuktikan dengan lebih dari 50 persen dari 40-an unit ruko yang ditawarkan dengan harga mulai Rp3 miliaran ludes dalam waktu singkat.
Tak hanya komersial, INPP juga menyentuh aspek emosional arsitektur melalui peluncuran Maison AÉLA di Sanur, Bali awal April lalu. Proyek yang baru saja melakukan peletakan batu pertama ini mengusung konsep boutique quiet luxury living. Hanya 11 unit vila yang dibangun, sebuah antitesis dari pembangunan masif yang tentu saja seringkali dianggap merusak ketenangan. Maison AÉLA menawarkan kemewahan yang tidak biasa, dengan fitur Lifted Garden Courtyard yang memisahkan manusia dari kebisingan kendaraan sehingga mampu menciptakan harmoni antara ruang dalam dan luar.
Menatap sisa tahun 2026, Paradise Indonesia telah menyiapkan belanja modal sebesar Rp400 miliar. Dengan dukungan pembiayaan dari perbankan, perusahaan membidik pertumbuhan pendapatan di kisaran 20 hingga 30 persen.
Paradise Indonesia pun tetap teguh pada kompas 4M yaitu Mixed-use, Mid-scale, Middle-up, dan Major cities. Bagi Anthony dan tim, menjadi tangguh berarti haruslah lincah dalam beradaptasi. Paradise Indonesia telah membuktikan bahwa dari puing-puing proyek mangkrak di masa pandemi, kini tumbuh sebuah imperium properti yang tidak hanya sukses membangun gedung dan ruang, tapi juga membangun masa depan berkelanjutan.