Jakarta, Properti Indonesia – Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 telah menciptakan tren-tren baru dalam dunia bisnis, tak terkecuali tren dalam hal pembelian properti. Dalam kondisi aktual, misalnya. Hampir sebagian besar pembeli produk properti, khususnya rumah tapak yang ditawarkan developer didominasi oleh mereka yang ingin menghuni sendiri propertinya (end user).
Padahal bukan rahasia, jika pertumbuhan properti selama ini dipicu oleh motif investasi para pembeli yang ingin memburu capital gain atau keuntungan. Kondisi ini pula yang akhirnya dimanfaatkan para developer untuk kembali memasarkan unit-unit rumah yang siap huni (ready stock).
Andy Candra, Principal Consultant dari Candra Consulting menuturkan, pergeseran tren terkait motif pembelian properti beberapa waktu terakhir kemungkinan besar dikarenakan beralihnya preferensi investor kelas menengah yang tadinya membeli properti untuk investasi, ke instrumen investasi lain seperti saham karena dianggap lebih liquid.

“Mengutip data yang dirilis Bursa Efek Indonesia, ada kenaikan jumlah Single Investor Identification (SID) atau identitas tunggal investor sejak awal tahun 2020 lalu. Padahal, modal asing keluar (capital outflow) terus terjadi sejak awal tahun akibat pandemi Covid-19,” sebut Andy kepada Properti Indonesia, Senin (22/02).
Dirinya mengatakan, untuk menyiasati kondisi tersebut developer sebenarnya bisa menerbitkan Dana Investasi Real Estat (DIRE) atau dalam bahasa inggris disebut Real Estate Investment Trust (REIT). Hal ini dikarenakan secara pergerakan DIRE juga cukup liquid layaknya saham.
“DIRE juga dirasa lebih aman karena jaminannya jelas berupa fisik properti yang menjadi underlying asset. Nah, agar lebih menarik, asset properti yang akan menjadi jaminan DIRE haruslah asset yang produktif, memiliki recurring income yang baik atau lebih tepatnya laku disewakan," jelas Andi.
Meski begitu, Andy mengingatkan, jika penerbit DIRE hendaknya juga harus dikenal sebagai asset manager yang pandai memilih properti produktif serta tidak terafiliasi dengan developer untuk menghindari conflict of interest.
"Jadi daripada investor enggan menanamkan investasinya, lebih baik penerbitan DIRE tersebut diserahkan kepada asset manager yang independen dan bonafid," ujar Andy.