Cushman: Pasar Perumahan Mulai Pede di Semester II 2022

Cushman: Pasar Perumahan Mulai Pede di Semester II 2022
Kawasan perumahan (pu.go.id)

Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan real estat Cushman & Wakefield menyebutkan, sektor properti khususnya produk perumahan mulai mendapatkan kepercayaan dari pasar pasca pandemi pada paruh kedua tahun 2022. Dimana, rumah dengan segmen menengah menunjukkan permintaan terbesar dari total unit yang terjual disusul rumah segmen atas.

Dalam laporannya, pasar rumah tapak di kawasan Jabodetabek mencatat rata-rata tingkat penyerapan sebanyak 21,7 unit per bulan per estat. Angka tersebut setara dengan penyerapan Rp40,3 miliar per bulan, nilai yang hampir sama dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan nilai rata-rata per unit yang ditransaksikan sekitar Rp1,86 miliar, atau meningkat 18,7 persen dari semester II 2021. Sedangkan rata-rata penyerapan tertinggi di Bekasi yaitu 32,1 unit per bulan diikuti Tangerang sekitar 22,2 unit per bulan.

Sebanyak 4.977 pasokan unit baru pada paruh kedua tahun 2022, termasuk sekitar 542 unit di kawasan baru di Bekasi. Jumlah tersebut memberikan kontribusi kenaikan sebesar 1,2 persen terhadap pasokan kumulatif di Jabodetabek. Pasokan baru di semester ini didominasi unit segmen menengah-bawah (28,8 persen), diikuti oleh segmen atas dan menengah (26 persen).

Kemudian, inflasi meningkatkan biaya berbagai konstruksi dan bahan bangunan dari waktu ke waktu, menyebabkan harga jual rata-rata meningkat 4,62 persen secara tahunan. Rata-rata harga tanah di Jabodetabek tercatat sekitar Rp12,22 juta per m2 per Desember 2022, ini menunjukkan kenaikan 1,8 persen semester per semester. Adanya pembangunan infrastruktur transportasi juga merupakan faktor kenaikan harga tanah di sekitar koridor ini. Harga jual rata-rata juga diperkirakan akan terus meningkat di 2023.

Selanjutnya, meskipun di tahun ini diperkirakan akan menjadi tahun yang menantang secara ekonomi global dan diperkirakan membuat pengembang dan investor “wait and see” dalam rencana pembangunan mereka, pengembang perumahan tapak akan tetap cukup optimis di semester mendatang karena mayoritas pembeli rumah adalah end user dan pemilik rumah pertama kali yang akan terus membeli rumah untuk kebutuhan utama mereka.

Bank Sentral telah mulai menaikkan suku bunga referensi hipoteknya di semester II 2022, bank mungkin akan secara bertahap menaikkan suku bunga KPR di tahun ini. Perpanjangan lebih lanjut dari relaksasi LTV/FTV Bank Indonesia (BI) yang memungkinkan DP 0 persen untuk semua fasilitas KPR pada 2023, akan tetap berdampak minimal pada pasar karena sebagian besar pengembang dan bank masih akan mensyaratkan minimum DP untuk diajukan sebagai komitmen awal pembeli.

Tags
#hunian #rumah #Berita Properti #properti #perumahan #cushman & wakefield