Usung Strategi Intensifikasi dan Ekspansi, Paradise Indonesia Bidik Pertumbuhan Hingga 30% di 2026

Usung Strategi Intensifikasi dan Ekspansi, Paradise Indonesia Bidik Pertumbuhan Hingga 30% di 2026
Antasari Place, salah satu portofolio milik PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP). (Ist)

Jakarta, Properti Indonesia - Mengawali tahun 2026, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP), atau Paradise Indonesia, memaparkan optimisme tinggi melalui agenda "Business Outlook 2026: Driving Business Growth Through Transformation". Mengusung kombinasi strategi intensifikasi aset eksisting dan ekspansi selektif, emiten berkode saham INPP ini membidik pertumbuhan pendapatan yang signifikan pada tahun ini.

Dalam acara yang digelar di HARRIS Suites fX Sudirman, Jakarta, Presiden Direktur & CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, mengungkapkan bahwa perusahaan tetap setia pada konsep 4M: Mixed-use development, Mid-scale, Middle-up, dan Major cities.

Berbeda dengan pengembang lain yang agresif menambah landbank (ekstensifikasi), INPP memilih jalur unik melalui intensifikasi aset. Anthony menjelaskan bahwa memaksimalkan potensi properti yang sudah ada menjadi kunci menjaga profitabilitas dan recurring income.

Presiden Direktur & CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo. Foto: Mita D.S / Properti Indonesia

"Kami tidak hanya melakukan ekstensifikasi yang sekadar caplok lahan. Kami melakukan intensifikasi dari aset yang ada, seperti menambah meeting room di fX, extension di 23 Paskal Bandung yang menambah luas 20 persen karena waiting list tenant mencapai 2-3 tahun," ujar Anthony  dalam pemaparannya kepada sejumlah media. Langkah serupa diterapkan pada aset perhotelan, seperti perluasan area spa dengan wings tersendiri di Hotel Sheraton guna meningkatkan nilai tambah properti tersebut.

Meski fokus pada intensifikasi, INPP juga terus memperluas jangkauan ke kota-kota besar. Setelah hadir di Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Makassar, INPP segera merambah Semarang dan Balikpapan.

Di Semarang, INPP melihat potensi sebagai commercial hub Jawa Tengah, di mana luas area sewa (net leasable area) ditingkatkan dari 37 ribu menjadi 48 ribu $m^2$ karena tingginya minat pasar. Sementara di Balikpapan, perusahaan mengusung konsep mixed-use dengan zona CBD yang memiliki kepadatan rendah hingga menengah (mid to low density).

Performa Keuangan dan Target 2026

Sementara itu Direktur INPP, Surina, memaparkan bahwa hingga September 2025, capaian bisnis perusahaan telah menyentuh Rp1,3 triliun atau menyamai total kinerja sepanjang tahun 2024. "Porsi pendapatan kami terdiri dari 33 persen komersial, 36 persen perhotelan, dan 31 persen property sales. Untuk tahun ini (2026), kami optimistis bisa tumbuh di kisaran 20 hingga 30 persen," jelas Surina.

Untuk mendukung target tersebut, sebutnya, INPP menyiapkan Belanja Modal (Capital Expenditure) sebesar Rp400 miliar yang difokuskan pada ekspansi dan renovasi produk eksisting. Hal ini menyusul suksesnya penerbitan obligasi dan kerja sama strategis dengan Hankyu Hanshin.

Menurut Surina, sektor residensial juga menunjukkan tren positif melalui proyek Antasari Place. Dari 980 unit yang tersedia, saat ini hanya tersisa 70 unit, dengan mayoritas penjualan pada 2025 didukung insentif PPN DTP. Keberhasilan ini mendorong rencana pengembangan tower kedua.

"Dengan dukungan pembiayaan dari perbankan, terutama Bank BCA, Paradise Indonesia yakin setiap unit penjualan akan memberikan imbas signifikan terhadap recurring income perusahaan di masa depan," pungkasnya.

 

 

Tags
#Pengembang #Developer #Antasari Place #Indonesian Paradise Property #INPP #emiten properti