Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan Cushman & Wakefield dalam laporan terbarunya bertajuk MarketBeat menyebutkan bahwa ada sekitar 7.689 unit kondominium dari 14 proyek yang telah diselesaikan pada kuartal ketiga tahun 2021. Jumlah tersebut meningkat 43% dibandingkan periode 3 bulan (kuartal per kuartal) sebelumnya tahun 2021. Namun, dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun 2020, total pasokan yang diselesaikan tersebut justru turun 18%.
Cushman menyebutkan, pada kuatal ini sejumlah konstruksi pada beberapa proyek ditunda termasuk jadwal serah terima hingga 2022 karena kebijakan PPKM darurat yang diberlakukan oleh Pemerintah.
Hanya ada tiga proyek yang diluncurkan ke pasar selama kuartal yang ditinjau, yaitu Tower Kensington di BSD Sky House, Tower Amethyst di Cisauk Point dan Terrace Diamond Tower, yang terdiri dari 2.451 unit, sehingga total pasokan dalam posisi “wait and see” untuk meluncurkan proyek baru.
“Saat ini, mereka lebih fokus pada pemasaran unit pasokan yang tersedia, memanfaatkan peluang dari penerapan aturan pemerintah untuk membebaskan pajak pertambahan nilai atas unit hunian ready stock. Dua dari proyek yang baru diluncurkan tersebut sebenarnya merupakan tahap pengembangan selanjutnya dari proyek yang sudah ada, karena tahap pengembangan sebelumnya sudah hampir habis terjual,” ungkap Direktur Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo dalam keterangannya, Senin (8/11).
Untuk rata-rata pertumbuhan harga kondominium di Jabodetabek pada kuartal III 2021 tercatat naik sebesar 0,2% secara kuartal per kuartal atau rata-rata Rp43,4 juta per meter persegi.
Pertumbuhan yang lambat menunjukkan bahwa pasar belum pulih dari efek Covid-19. Proyek-proyek yang hampir selesai terus menawarkan promosi untuk mendongkrak penjualan seperti paket full furnish, potongan biaya pemesanan, dan jaminan sewa sebagai tambahan insentif pembebasan PPN dari pemerintah. Akibatnya, tidak terlihat kenaikan harga yang signifikan di pasar, sementara harga pasar sekunder juga terlihat sangat kompetitif.
Sementara itu, tingkat serapan bersih tercatat sebanyak 3.760 unit pada kuartal III 2021, baik proyek yang telah selesai maupun proyek yang sedang diusulkan. Jumlah ini dua kali lipat dari yang diserap pada kuartal sebelumnya sebesar 1.844 unit atau meningkat 103,9% secara kuartal per kuartal.
Arief menjelaskan, sebagian besar transaksi terjadi di proyek-proyek yang sudah tersedia dan tingkat penjualannya tetap stabil di 93,6%, sedikit meningkat 0,3% dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun 2020. Sementara itu, tingkat pra-penjualan menurun 0,8% dari 60,6% di kuartal kedua menjadi 59,% pada akhir kuartal, rata-rata kekosongan pasar meningkat 2,53% dari 50,9% pada kuartal kedua menjadi 52,2%.
“Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh berakhirnya kontrak sewa tanpa kontrak baru karena banyak penyewa ekspatriat yang kembali ke negaranya,” imbuh Arief.