PUPR Rehabilitasi 310 Rumah Warga di Kawasan Bromo Menjadi Homestay

PUPR Rehabilitasi 310 Rumah Warga di Kawasan Bromo Menjadi Homestay
Sarhunta di KSPN Bromo-Tengger-Semeru (Dok. Kementerian PUPR)

Jakarta, Properti Indonesia – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah melakukan peningkatan kualitas rumah swadaya bagi masyarakat yang tinggal di koridor Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Bromo-Tengger-Semeru (BTS), Jawa Timur. Sebanyak 430 rumah warga yang tidak layak huni dilakukan rehabilitasi, dimana sebanyak 310 rumah diantaranya dijadikan sebagai usaha pondok wisata (homestay) dan sisanya 120 rumah untuk usaha pariwisata lain seperti warung, kios, dan kafe.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, renovasi rumah warga untuk hunian pariwisata dilakukan dengan pola pemberdayaan sehingga masyarakat juga mendapat manfaat ekonomi dari sektor pariwisata.

“Untuk pariwisata, pertama yang harus diperbaiki infrastrukturnya, kemudian amenities dan event, baru promosi besar-besaran. Kalau hal itu tidak siap, wisatawan datang sekali dan tidak akan kembali lagi. Itu yang harus kita jaga betul,” ujar Menteri Basuki dalam keterangannya, Minggu (7/8).

Pembangunan rumah wisata ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Program peningkatan kualitas rumah swadaya di KSPN BTS ini dikerjakan pada tahun anggaran 2021 senilai Rp25,99 miliar. Sebanyak 310 unit rumah dijadikan homestay yang tersebar di Desa Ngadisari Kabupaten Probolinggo 34 unit, Desa Tosari 45 unit dan Desa Wonokitri 35 unit di Kabupaten Pasuruan, Desa Ngadas 65 unit dan Desa Gubukklakah 66 unit di Kabupaten Malang serta Desa Ranupani 65 unit di Kabupaten Lumajang.

Desain renovasi rumah warga menjadi sarhunta dimodifikasi lebih modern dengan kearifan lokal masyarakat Suku Tengger sebagai upaya menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menginap. Sarhunta ini menjadi alternatif penginapan bagi para wisatawan yang berkunjung di Bromo.

“Diharapkan dengan kondisi rumah penduduk yang ditingkatkan kualitasnya para wisatawan yang menginap bisa lebih nyaman,” imbuh Ali Murtado, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Jawa IV Ditjen Perumahan.

Salah satu penerima program Sarhunta di Desa Ngadisari, Sudaryanto, mengaku adanya program ini dapat menambah penghasilan keluarga. Pemilik Homestay Darsana ini mengantongi hasil dalam sebulan rata-rata Rp2 juta. Dengan harga sewa per malamnya sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.

“Untuk semalam kami tawarkan Rp200-Rp250 ribu, bisa menjadi tambahan pemasukan keluarga. Tetapi kalau boleh berharap tolong kami diberi pelatihan bagaimana mengelola tamu, service homestay, dan sebagainya,” kata Sudaryanto.

Tags
#hunian #rumah #Berita Properti #Kementerian PUPR #properti #pariwisata #home stay desa wisata #sarhunta #homestay #penginapan