Jakarta, Properti Indonesia - Pencabutan pembatasan kegiatan untuk menekan penyebaran pandemi Covid-19 di akhir 2022 lalu, tak bisa dipungkiri turut berdampak positif terhadap pasar properti, khususnya produk perumahan. Cushman & Wakefield Indonesia mencatat bahwa perumahan segmen menengah dan atas terus mengalami permintaan hingga kuartal kedua tahun ini.
Permintaan perumahan pada segmen menengah masih mendominasi sekitar 26 persen, sementara segmen atas terus menunjukkan permintaan sebanyak 23,9 persen dari total unit yang terjual. Sebagian besar permintaan berasal dari end-user, atau sekitar 77 persen dari pembeli.
Wilayah Jabodetabek menunjukkan tingkat rata-rata penyerapan bersih bulanan sebanyak 20,1 unit per perumahan selama semester I 2023. Jumlah ini menurun 20,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut sebanding dengan nilai serapan rata-rata sebesar Rp41,8 miliar per perumahan per bulan.
"Meskipun mengalami penurunan 8 persen secara tahunan, namun tetap relatif stabil dibandingkan dengan semester sebelumnya, atau meningkat 4 persen, ini menunjukkan daya beli yang menjanjikan dalam pasar," ujar Arief Rahardjo selaku Director, Strategic Consulting Indonesia Cushman & Wakefield, Kamis (27/7).
Di semester I 2023 ini, terdapat sekitar 24 produk perumahan yang baru diluncurkan di Jabodetabek, dengan didominasi Tangerang sebanyak 11 proyek total 2.753 unit rumah. Arief juga menyampaikan pada tahun 2024 mendatang, pasar perumahan diprediksi masih terus positif dengan permintaan yang cukup stabil dengan pertumbuhan sekitar tiga persen.
Nilai transaksi rata-rata per unit sekitar Rp2,08 miliar, meningkat 15,6 persen dibandingkan semester pertama tahun 2022. Bekasi mempertahankan posisinya dengan tingkat serapan rata-rata tertinggi per perumahan yaitu 27,9 unit per bulan. Diikuti oleh Tangerang sebanyak 21,4 unit per perumahan per bulan. Adapun rata-rata permintaan perumahan ini berada di rentang harga Rp800 juta hingga Rp1,5 miliar.
Meskipun program insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari pemerintah berkahir pada September 2022, para pengembang perumahan masih aktif teribat dan diperkirakan akan terus meluncurkan produk-produk baru karena permintaan yang kuart dan berkelanjutan yang mereka alami. Selain itu, pada Januari 2023 Bank Sentral melakukan sejumlah kenaikan pada tingkat suku bunga acuan rata-ratanya dan mempertahankan tingkat tersebut hingga Juni 2023, dengan tujuan mengendalikan tekanan inflasi.
Namun demikian, tingkat Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) yang ditawarkan oleh bank-bank tetap relatif stabil. Banyak bank terus meringankan regulasi kredit mereka, sementara para pengembang aktif melakukan metode pembayaran yang kompetitif seperti program angsuran uang muka dan kredit pemilikan rumah ekspress.
"Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap menjadi metode pembayaran yang lebih disukai di paruh pertama tahun 2023, mencakup 74,1 persen dari transaksi, diikuti oleh pembayaran tunai dalam angsuran sebesar 15,2 persen dari pembayaran tunai penuh sebesar 10 persen," jelas Arief.