Jakarta, Properti Indonesia - Hingga kuartal kedua tahun 2023 penjualan lahan industri tercatat rendah dari kuartal sebelumnya. Meski begitu, kombinasi dari inflasi yang terkelola dengan baik dan suku bunga yang relatif stabil diyakini masih mampu memikat perusahaan domestik maupu asing untuk berekspansi di Indonesia.
"Dalam waktu dekat, lonjakan aktivitas penjualan mungkin tidak segera terlihat, namun usaha yang terlihat dari beberapa perusahaan, terutama yang berasal dari pasar eksternal dalam mengeksplorasi dan memperluas usaha komersial mereka secara aktif merupakan pertanda baik bagi potensi jangka panjang sektor industri properti," ujar Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto, dalam laporan Industrial Estate Q2 2023, dikutip Kamis (31/8).
Berdasarkan catatan Colliers, penjualan lahan industri masih berada di bawah eskpetasi, namun harapan tetap ada pada semester kedua tahun ini. Di kuartal kedua total penjualans sedikit menurun dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan hanya empat kawasan industri yang melaporkan penjualan signifikan, sementara dua kawasan lainnya hanya menjual transaksi sewa dan penjualan bangunan industri dengan ukuran lahan yang lebih kecil.
Pada kuartal I 2023 total luas lahan yang ditransaksikan yaitu 37,3 hektar sementara di kuartal II mencapai 36,2 hektar. Namun, total luas lahan yang ditransaksikan pada paruh pertama 2023 hanya 63 persen dari periode yang sama tahun 2022. Sehingga hal ini memberikan tantangan besar bagi pasar kawasan industri jika ingin melampaui capaian pada tahun lalu.
Meski demikian, potensi penjualan untuk mengungguli tahun sebelumnya masih tetap ada, didukung oleh beberapa faktor seperti prospek perekonomian yang lebih optimis, transisi Indonesia menuju negara endemik.
"Covid yang sebelumnya melumpuhkan perekonomian, dan antisipasi potensi transaksi pada paruh kedua tahun ini. Khususnya, kawasan industri tertentu telah memberikan sinyal bahwa beberapa perusahaan telah menyatakan minatnya untuk membeli lahan dalam jangka waktu tersebut," jelas Ferry.
Kawasan industri Greenland International Industrial Center (GIIC) tercatat konsisten dalam melakukan transaksi-transaksi besar. Kinerja penjualan kawasan industri di wilayah Jabodetabek masih bergantung pada kontribusi GIIC. Pada kuartal ini GIIC menyumbang 45 persen penjualan, dengan total penjualan lahan 16,4 hektar. Terdur7 dari 6,7 hektar untuk pusat data (data center), tiga bidang tanah seluas 3 - 4,7 hektar yang dijual kepada perusahaan industri otomotif.
Perusahaan-perusahaan data center secara konsisten menggandeng kawasan ini sebagai penyewa dengan total lahan serapan kurang lebih 83 hektar dari tahun 2020 - 2022. GIIC menjual lahan seluas 18,5 hektar di semester pertama 2023 kepada perusahaan pengelola data center.
Sementara itu, Jababeka Estate tercatat menjual lahan seluas 13 hektar. Pada kuartal ini, Jababeka berhasil melakukan transaksi tanah dengan beberapa perusahaan dalam dan luar negeri yang berasal dari Tiongkok, Malaysia, dan Taiwan. Perusahaan-perusahaan ini bergerak di berbagai industri seperti manufaktur bahan pipa, plastik, elektronik, dan berbagai sektor lainnya.
Selanjutnya, Artha Industrial Hill (AIH) juga melaporkan angka penjualan 4 hektar berasal dari dua transaksi, satu melibatkan perusahaan tekstil berteknologi tinggi yang membeli 2 hektar dan satu lagi dari perusahaan pewarna yang beroperasi di industri tekstil, mengakuisisi area yang setara.
AIH melihat adanya peluang untuk mengkalibrasi harga jual tanah agar lebih sesuai dengan harga pasar yang berlaku di wilayah Karawang. Di Serang, penjualan yang tercatat terbatas pada 2,5 hektar, khususnya berasal dari KIEC dan ditujukan kepada perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan industri baja, mengingat konsentrasi perusahaan berbasis baja di wilayah tersebut.
Kawasan industri tertentu seperti KIIC, Suryacipta, KNIC, Bekasi Fajar, dan Modern Cikande yang pada periode-periode sebelumnya konsisten mencatatkan penjualan, kali ini tidak mencatatkan transaksi apa pun. Namun, wilayah-wilayah ini masih memiliki potensi pertumbuhan penjualan di sisa enam bulan tahun ini.
Pusat data terus berkontribusi secara keseluruhan penjualan area selama beberapa tahun terakhir. Dalam enam bulan pertama tahun 2023, pusat data menyumbang 25% dari total penjualan, diikuti oleh industri manufaktur. Tren ini diperkirakan akan bertahan sepanjang sisa tahun ini.
Adapun kawasan industri yang telah beroperasi lebih dari 25 tahun memiliki harga jual lahan per meter persegi di kisaran Rp3 - Rp3,25 juta untuk di Bekasi, Rp2,25 - Rp3 juta di Karawang, dan Rp2 - Rp2,3 juta di Serang. Namun karena terbatasnya ketersediaan lahan, ditambah dengan permintaan dan persaingan yang ketat, harga jual lahan saat ini telah disesuaikan dan hampir setara dengan kawasan industri yang relatif baru.
Kawasan industri baru di Purwakarta dan Subang menawarkan harga jual yang lebih kompetitif, berkisar antara Rp1,65–2,25 juta per meter persegi. Penetapan harga ini dipengaruhi oleh lokasinya yang jauh dari infrastruktur transportasi utama, populasi penyewa yang relatif lebih rendah, dan masih berlangsungnya pembangunan fasilitas transportasi penting seperti pelabuhan dan jalan tol.
Selama semester pertama tahun 2023, empat kawasan industri memperkenalkan skema penetapan harga baru, dengan tercatat kenaikan harga tanah sebesar 5% hingga 10%.