Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan properti Colliers Indonesia dalam laporannya menyebutkan bahwa penjualan lahan industri di kuartal ketiga tahun 2022 mengalami kontraksi cukup dalam. Namun demikian, masih terdapat peluang bagi sektor ini untuk terus tumbuh meskipun dalam jangka pendek. Hal ini karena masih terdapat beberapa potensi transaksi ke depannya.
Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, sektor industri masih menjadi daya tarik bagi industri properti. Kinerjanya lebih baik dibandingkan dengan sektor properti lainnya, terutama didorong oleh industri teknologi tinggi seperti pusat data (data center) dan kendaraan listrik, pergudangan, logistik, makanan, kesehatan, dan barang konsumsi.
“Kebangkitan sektor ini harus diantisipasi dengan ketersediaan lahan yang cukup karena kebutuhan akan properti yang besar dapat terjadi kapan saja. Selain itu, kawasan tersebut harus mampu mengantisipasi kebutuhan industri yang membutuhkan sumber energi besar seperti data center, serta kebutuhan air bersih yang tinggi dan tentunya infrastruktur yang dapat mendukung operasional industri berbasis teknologi,” jelas Ferry dalam laporan Colliers Indonesia tentang Sektor Industri di kuartal III 2022, dilansir Kamis (22/12).
Colliers mencatat transaksi di kuartal ketiga tahun ini merupakan yang terendah dan relatif melambat. Hanya ada enam wilayah yang melaporkan transaksi selama periode ini dengan total lahan yang terjual seluas 24,5 hektar. Total transaksi hingga September 2022 tercatat 139,7 hektar atau 66 persen dari capaian tahun lalu.
“Jika transaksi di akhir kuartal tahun ini tidak signifikan, maka pencapaian tahun ini tidak bisa menyamai pencapaian di tahun 2021. Namun, hal tersebut tidak menandakan pelemahan di sektor industri karena permintaan dan rencana peningkatan kapasitas produksi masih berjalan,” imbuh Ferry.
Pada kuartal ini, Kawasan Greenland International Industrial Center (GIIC) Kota Deltamas berkontribusi secara keseluruhan dengan total lahan yang dijual 11,6 hektar. Terdiri dari dua bidang tanah yang dijual ke perusahaan data center seluas 5,0 hektar dan 5,2 hektar, serta perusahaan terkait otomotif yang membeli lahan seluas 1,4 hektar.
Selanjutnya, transaksi lain terjadi di kawasan Artha Industrial Hills (AIH) di Karawang, di mana sebuah perusahaan tekstil Korea membeli total seluas 7,3 hektar. Kemudian ada dua kawasan industri di Bekasi masing-masing mencatatkan dua transaksi, yaitu Bekasi Fajar yang menjual 2 hektar lahan ke perusahaan otomotif, dan Jababeka yang menjual 1,5 hektar lahan.
Di sebelah barat, Kawasan Industri Modern Cikande melaporkan transaksi seluas 1,29 hektar. Meski jumlahnya kecil, tercatat ada empat transaksi, masing-masing dari tiga perusahaan lokal dan satu perusahaan dari Taiwan yang memproduksi bahan bangunan sebagai bagian dari ekspansinya. Tiga perusahaan lainnya di Modern Cikande terdiri dari perusahaan kimia, farmasi, dan produk kesehatan. Griya Idola mencatat penjualan satu unit SFB ke perusahaan migas, serta tanah kavling ke perusahaan kimia dengan transaksi total lahan adalah 0,28 hektar.
“Data center masih menjadi penopang penjualan industri sepanjang tahun 2022. Tren ini mungkin akan berlanjut di kuartal keempat dan menjadi sektor yang mendorong pertumbuhan di tahun 2023. Begitu pula sektor logistik yang akan berkembang ke depannya. Sementara sektor lain yang akan ditingkatkan kapasitas produksinya adalah industri petrokimia dan turunanya,” papar Ferry.
Dari sisi penjualan selama kuartal ketiga ini tidak berubah. Memang ada kecenderungan harga naik, namun sebagian besar dipicu oleh kelangkaan lahan, terutama di daerah-daerah yang penjualannya bagus dengan stok lahan yang terbatas tetapi kesulitas memperluas wilayahnya.
“Harga lahan industri mengalami stagnansi selama beberapa tahun, karena pengelola kawasan masih mempertahankan harga lama agar penjualan tidak turun di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit,” katanya.
Harga rata-rata lahan industri di Bogor-Sukabumi tercatat sebesar USD284,57 atau sekitar Rp4,43 juta per m2, di Tangerang sebesar USD190,83 atau Rp2,97 juta per m2, Karawang sebesar USD157,50 atau Rp2,45 juta per m2, Bekasi USD206,23 atau Rp3,21 juta per m2, dan Serang USD123,87 atau Rp1,93 juta per m2.
“Kami tidak mencatat transaksi sewa apapun pada kuartal ini. Daerah yang fokus pada penyewaan tanah dan bangunan industri juga tidak melaporkan adanya transaksi sewa. Sepanjang kuartal ini permintaan bervariasi dari otomotif, makanan, terkait tekstil, dan listrik. Umumnya perusahaan yang mencari gudang berasal dari Jepang, China, Korea, dan India, serta beberapa perusahaan lokal. Beberapa bisnis masih dalam tahap eksplorasi mencari bangunan industri dengan luas sekitar 1.000 m2 dan saat ini beroperasi di dalam perusahaan mereka sendiri untuk keperluan ekspansi,” jelas Ferry.