Jakarta, Properti Indonesia – Tingkat penjualan kondomium di Jakarta pada kuartal I 2022 tercatat masih mengambang di kisaran 82 persen hingga 83 persen menurut konsultan properti Leads Property. Terlepas dari adanya permintaan di kuartal yang berjalan ini, peluncuran proyek baru juga ikut serta dalam menjaga stabilnya tingkat penjualan kondominium. Seperti peluncuran Okura Residence di Gatot Subroto Jakarta CBD, yang mengisi segmen mewah di pasar kondominium.
Peluncuran tersebut menunjukkan bahwa pasar ini mulai mendapatkan kembali sentimen positif meskipun pandemi belum selesai. Sehingga, pasokan kumulatif pada kuartal I 2022 meningkat 0,1 persen menjadi 258.067 unit. Meskipun terdapat pemotongan pada insentif PPN di tahun 2022, dengan adanya strategi pemasaran atau gimik seperti potongan harga, free furnish dan bebas biaya-biaya tertentu, pasar kondominium berhasil mencatatkan permintaan secara kuartalan sekitar 500 unit. Kondisi ini mendorong permintaan kumulatif mencapai angka 212.157 unit.
“Segmen menengah dan menengah-atas tampaknya mendorong permintaan tersebut. Segmen tersebut tetap menarik, baik bagi investor maupun pengguna akhir (end user) karena pengembang terus menawarkan berbagai promosi untuk meningkatkan penjualan,” ujar Martin Samuel Hutapea, Associate Director, Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia dalam siaran pers, Senin (11/4).
Lanjut Martin, selama dua tahun terakhir harga rata-rata di pasar kondominium relatif stabil karena developer menjaga pergerakan harga agar menarik pembeli, di samping gimik yang ada. Rerata harga jual di kawasan prime dan CBD masing-masing tercatat sebesar Rp46,3 juta dan Rp55,2 juta per meter persegi.
Mulai awal tahun 2022, insentif PPN untuk unit siap huni hanya sebesar 50 persen untuk harga satuan Rp2 miliar, dan 25 persen untuk harga satuan Rp2-5 miliar, dimana hal ini kurang menarik. Adapun kebijakan insentif tersebut akan berlaku sampai September 2022. Selain itu, adanya kenaikan PPN dari 10 persen menjadi 11 persen mulai April 2022 berpotensi menjadi salah satu penghambat untuk membeli kondominium.
“Namun, hal ini menyiratkan bahwa pembeli tidak boleh melewatkan kesempatan menikmati insentif PPN hingga September 2022,” imbuh Martin.
Dengan prediksi ekonomi yang lebih baik oleh pemerintah di tahun 2022, daya beli masyarakat diharapkan juga meningkat. Beberapa pengembang mungkin mempertimbangkan untuk meluncurkan beberapa proyek baru di Jakarta. Tingkat penjualan kondominium juga diperkirakan akan berada di kisaran 83 persen hingga 84 persen di tahun 2022.
“Hingga akhir tahun ini, pengembang harus terus menawarkan berbagai promosi sebagai bagian dari gimik agar produknya tetap menarik, apalagi akan adanya PPN 11 persen serta selesainya insentif PPN setelah September 2022. Harga produk kondominium di tahun ini diperkirakan sedikit demi sedikit merangkak naik,” jelas Martin.