Pasokan Bertambah, Okupansi Perkantoran CBD Justru Drop Hingga 75 Persen

Pasokan Bertambah, Okupansi Perkantoran CBD Justru Drop Hingga 75 Persen
Ruang kantor (Freepik)

Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan Properti Colliers International Indonesia mencatat tingkat hunian atau okupansi perkantoran pada kuartal pertama 2022 mengalami penurunan drastis. Dalam laporan terbaru Colliers, tingkat okupansi perkantoran di kawasan CBD Jakarta pada kuartal I 2022 tercatat 75,3 persen atau turun 3 persen QoQ. Sementara okupansi di kawasan non-CBD berada di tingkat yang sama yaitu 75,3 persen atau menurun 3,9 persen. 

 Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto mengatakan bahwa faktor yang menyebabkan menurunnya pasokan adalah masuknya suplai perkantoran. “Kalau suplai masuk dalam keadaan belum terlalu baik saat beroperasi atau okupansinya belum baik, itu bisa mempengaruhi tingkat hunian keseluruhan,” ujar Ferry dalam siaran pers virtual, Rabu (6/4) lalu.

Menurutnya, penurunan tingkat okupansi perkantoran juga ditentukan oleh pengurangan luas perkantoran oleh beberapa perusahaan yang menerapkan sistem hybrid working. Namun, okupansi diprediksi naik hingga 77 persen pada akhir tahun 2022 seiring dengan beberapa sektor industri yang menjadi penggerak. Diantaranya adalah e-commerce, fintech, dan social media platform.

“Pertumbuhan ekonomi yang stabil akan semakin mendorong permintaan ruang perkantoran dan okupansi sejalan dengan terbatasnya tambahan pasok 2023-2025,” imbuh Ferry.

Sepanjang kuartal pertama tahun ini, terdapat dua kantor yang beroperasi dan menambah pasok menjadi 7,04 juta meter persegi yaitu PNM Tower (Office One) dan Menara BRI. Kemudian di daerah non-CBD yaitu Pondok Indah Office Tower 5 dan Maritime Tower yang menambah pasok menjadi 3,70 juta meter persegi.

Colliers juga mencatat belum ada proyek perkantoran baru yang diperkenalkan, dan masih berasal dari penyelesaian proyek yang saat ini sedang dibangun. Pengembang juga masih dalam posisi menunggu saat yang tepat untuk memperkenalkan proyek baru. Adapun untuk mengejar dan mempertahankan tingkat hunian, beberapa pengelola gedung memilih untuk menurunkan tarif sewa.

“Tarif sewa di CBD saat ini tercatat Rp235.635 sedangkan di luar CBD tercatat Rp176.737. Tarif sewa ini turun 11 persen di CBD, dan 8 persen di luar CBD dibandingkan awal masa pandemi atau kuartal II 2020,” lanjutnya.

Untuk pasar gedung jual, harga jual di CBD dan non-CBD cenderung stabil dan saat ini ruang kantor jual kebanyakan untuk disewakan (sublease). Sektor perkantoran diproyeksi pada beroperasinya gedung kantor kelas premium akan memberikan pengaruh terhadap perhitungan rata-rata tarif sewa, terutama di CBD. Namun, karena masih besarnya ruang yang belum terserap, perbedaan antara penawaran hingga ke tarif transaksi masih relatif lebar.

 

Tags
#hunian #Perkantoran #Berita Properti #properti #ruang kantor #colliers indonesia