Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia menyebutkan bahwa kinerja perkantoran di Jakarta pada kuartal I 2022 relatif stabil. Dilansir dari riset JLL Indonesia bertajuk Jakarta Property Market Review 1Q 2022, Senin (23/5), pada kuartal ini tidak ada pasokan tambahan ruang perkantoran dan permintaan terbatas di kawasan Central Business District (CBD) dengan tingkat hunian masih sebesar 74 persen sementara di kawasan Non-CBD mencapai 73 persen.
Head of Research JLL Indonesia, Yunus Karim mengatakan, permintaan untuk semua gedung perkantoran di CBD tercatat sekitar 3.250 meter persegi. Dibandingkan periode tahun 2017 hingga 2019, periode 2020 hingga 2022 dinilai mengalami penurunan yang signifikan akibat pandemi Covid-19. Dengan tren peningkatan perkantoran didominasi oleh kategori sektor teknologi.
Ada sebanyak 4 gedung perkantoran baru Grade A di kawasan CBD yang diperkirakan selesai di tahun 2022, dan akan menambah pasokan sebanyak 270 ribu meter persegi. Di antaranya adalah Rajawali Place, Mori Building, Thamrin Nine – Autograph Tower dan Luminary Tower. Sehingga total pasokan perkantoran di kawasan CBD pada tahun 2022 mencapai 6,8 juta meter persegi.
Pada harga sewa gedung perkantoran Grade A di CBD terus menurun menjadi sekitar 2,8 persen kuartal per kuartal (qoq), karena tingkat kekosongan yang tinggi dan terbatasnya permintaan pasar. Dibandingkan kuartal I 2021, kuartal I 2022 tercatat menurun sekitar 10,1 persen (yoy). Baik pada tingkat hunian dan harga sewa diperkirakan tetap berada di bawah tekanan pada kuartal berikutnya, karena akan ada pasokan besar yang masuk ke depannya.
Sementara itu, pada kawasan Non-CBD relatif stabil dengan tingkat hunian mencapai 73 persen. Diperkirakan pada periode berikutnya akan menambah pasokan sebanyak 130 ribu meter persegi di tahun 2022. Harga ewa masih berada di bawah tekanan dengan penurunan sedikit 0,6 persen (qoq) atau Rp109.665 meter persegi. Pasokan perkantoran sampai dengan kuartal I 2022 di kawasan Non-CBD mencapai 3,1 juta meter persegi dengan suplai tambahan hingga tahun 2026 diperkirakan mencapai 400 ribu meter persegi.