Kuartal Pertama 2022 Investasi Properti China Mulai Bergairah

Kuartal Pertama 2022 Investasi Properti China Mulai Bergairah
Pembangunan gedung apartemen di Beijing (Foto: VCG)

Jakarta, Properti Indonesia – Investasi properti di China selama dua bulan pertama tahun 2022 naik sebesar 3,7 persen secara tahunan, berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistic/NBS) China, dilansir dari laman global times, Selasa (15/3). 

Kenaikan tersebut didorong oleh pelonggaran aturan pembatasan pada properti yang bertujuan untuk memicu minat tinggi untuk pembelian properti. Padahal, pada akhir Desember 2021 lalu pertumbuhan investasi properti di China menurun 13,9 persen secara tahunan.

Selama periode Januari-Februari tersebut, investasi properti mencapai sekitar 1,45 triliun yuan (sekitar USD227,42 miliar) atau setara dengan Rp3.249,6 triliun. Investasi pada bangunan tempat tinggal atau residensial naik 3,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya hingga mendekati 1,08 triliun yuan pada periode Januari-Februari. Pada periode yang sama, penjualan perumahan komersial turun 19,3 persen menjadi sekitar 1,55 triliun yuan.

Pada tahun lalu, properti di China anjlok akibat kampanye penghapusan utang (deleveraging) yang menyebabkan beberapa pengembang properti besar terjebak krisis likuiditas. Akibatnya, banyak yang mengalami gagal bayar, harga saham sektor properti jatuh, dan proyek-proyek mengalami penangguhan. Namun, hal tersebut mulai perlahan pulih berkat upaya pemerintah China untuk menstabilkan harga tanah, memberikan uang muka yang lebih kecil, dan menurunkan tingkat hipotek.

Negara tersebut juga akan bergerak lebih cepat dalam mengembangkan pasar sewa jangka panjang, serta mendorong pembangunan rumah subsidi dari pemerintah. DIrektur Riset E-house China Research and Development Institution, Yan Yuejin mengatakan, meskipun pemerintah daerah telah mengambil langkah yang menguntungkan sejak Februari, investasi perusahaan properti belum sepenuhnya pulih. 

Lanjutnya, pertumbuhan investasi properti yang kurang dari 5 persen sebenarnya menandakan kontraksi, menunjukkan bahwa keinginan perusahaan properti untuk bangkit dan berinvestasi kembali masih lemah, dan beberapa masih mengalami hambatan.

 

Tags
#hunian #rumah #Developer #Berita Properti #Bisnis Properti #real estate #properti #Sektor Properti #China