Jakarta, Properti Indonesia – Cushman & Wakefield memperkirakan volume investasi real estat (tidak termasuk situs pengembangan) di Asia Pasifik akan meningkat kembali pada 2021 menjadi sebesar USD 165 miliar. Nilai ini setara 90 persen dari total pencapaian di tahun 2019.
Rebound aktivitas investasi di kawasan ini didukung oleh kepercayaan investor yang semakin besar karena Asia Pasifik telah memimpin pemulihan ekonomi di seluruh dunia. Kawasan ini juga mengalami momentum positif yang didukung oleh lonjakan investasi pada kuartal terakhir tahun 2020.
Dalam laporan Cushman & Wakefield yang diterima Properti Indonesia (9/3), disebutkan kawasan ini diperkirakan mengalami momentum dalam aktivitas investasi, meskipun laju pemulihan bervariasi di setiap negara.
Baca Juga : Moody's : Cash Flow Pengembang Properti di Indonesia akan Meningkat Tahun Ini
Sebagai contoh, China dan Jepang dinilai memiliki kinerja yang relatif kuat sepanjang 2020, dengan penurunan volume investasi relatif kecil. Dikombinasikan dengan kinerja di Q4-2020 yang kuat, dua negara ini cenderung akan menjadi yang pertama pulih ke level sebelum Covid-19.
Korea Selatan juga mencatat kinerja cukup bagus di 2020 dengan volume investasi tahunan tertinggi sejak 2015. Aktivitas investasi yang kuat di negara ini diperkirakan akan berlanjut dengan volume keseluruhan berada di kisaran level yang sama dengan tahun 2019 dan mempunyai potensi lebih lanjut mengalami kenaikan.
Selain tiga negara di atas, Singapura dan Australia sebelumnya juga mengalami penurunan volume masing-masing sebesar 73% dan 45% pada tahun lalu. Namun kedua pasar ini mulai menunjukkan tingkat aktivitas menjelang akhir tahun 2020 dan meningkat di 2021.
Baca Juga : Colliers: Sektor Hotel Asia Pasifik Diperkirakan Pulih di Tahun 2023
Sementara Hong Kong masih mengalami peningkatan serupa di semester kedua 2020 dan volume diperkirakan meningkat pada tahun 2021, akan tetapi masih cenderung lemah dibanding rata-rata 2015-2019 sebesar USD 21 miliar. India juga menunjukkan kinerja kuat pada 2020 dan momentum investasi diperkirakan terus berlanjut karena perhatian investor internasional semakin meningkat.
Adapun, Indonesia sendiri sudah memperlihatkan potensi volume transaksi yang kuat sejak awal 2021, dan para investor masih berfokus kepada aset yang penjualannya tertekan sepanjang 2020.
Bisnis yang prospektif tahun ini
Cushman & Wakefield juga memperkirakan bisnis-bisnis properti yang prospek atau menjadi tren di tahun ini, peringkat pertama dipegang oleh sektor logistik. Logistik tetap menjadi fokus utama karena perkembangan e-commerce dan rantai pasokan. Sektor logistik dan industri di Asia Pasifik mengalami momentum pertumbuhan yang kuat, dan diuntungkan oleh basis biaya yang relatif lebih rendah dan populasi usia kerja yang terus bertambah.
Selanjutnya disusul oleh pusat data yang terus memperlihatkan potensi pertumbuhan, karena akselerasi pemanfaatan konektivitas cloud. Asia Pasifik diharapkan akan memberikan kinerja baik sebagai tujuan pasar pusat data, mengingat perkembangan pesat platform dan jaringan teknologi di berbagai negara di kawasan ini.
Baca Juga : Ini Dia Subsektor Properti Paling Diminati Investor Asing di Masa Depan
Kemudian perkantoran akan tetap menjadi aset investasi yang paling banyak dicari salah satunya di lokasi-lokasi utama. Saat perusahaan sudah menghitung dampak kerja jarak jauh terhadap kebutuhan hunian kantor mereka dan membuat komitmen jangka panjang, pasar perkantoran akan mengalami peningkatan di paruh kedua tahun ini.
Terakhir adalah sektor ritel kebutuhan pokok dan tujuan lokal masih populer, terutama selama pandemi. Experiential retail jauh lebih terdampak karena efek pembatasan masa pandemi, terutama pada retailer yang bergantung pada perjalanan internasional diperkirakan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.