Jakarta, Properti Indonesia – Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) menyebutkan bahwa volume investasi properti di Asia Pasifik meningkat dalam sembilan bulan pertama tahun 2021 atau tercatat meningkat sekitar 30% dibandingkan periode yang sama tahun 2020.
Chief Executive Officer (CEO) Capital Market Asia Pacific JLL, Stuart Crow mengatakan, transaksi properti di Asia Pasifik selama tahun berjalan (year to date) mencapai USD125 miliar, kurang 6% dari volume transaksi pada tahun 2019. Hal tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya investasi di sejumlah aset yang masih memberikan keuntungan seperti perkantoran dan logistik.
“Sepanjang tahun 2021, minat investor di kawasan ini tetap sangat tinggi karena modal menjadi lebih aktif dan volume mendekati tingkat sebelum pandemi di seluruh kawasan, yang kami harapkan akan berlanjut hingga kuartal keempat,” ujar Stuart Crow, dalam keterangannya dikutip Rabu (17/11).
Menurutnya, investasi perkantoran pada kuartal III 2021 terus membaik dan mencapai 55% dari keseluruhan transaksi, yang juga didukung oleh stabilnya tingkat sewa dan okupansi. Kemudian untuk transaksi logistik terus meningkat dengan investasi mencapai USD43 miliar dalam 12 bulan terakhir, naik dari USD25 miliar pada tahun 2019.
JLL memperkirakan investasi logistik akan melonjak hingga USD50 miliar hingga USD60 miliar pada rentang 2023 hingga 2025. Hal tersebut didorong oleh permintaan, tingkat keuntungan yang menarik, dan rencana diversifikasi.
Sementara untuk sektor ritel dan perhotelan masih lemah karena melambatnya pemulihan ekonomi akibat Covid-19. Adapun proyeksi investasi perhotelan akan melampaui USD7 miliar pada tahun ini, dan tumbuh menjadi USD9 miliar pada tahun 2022.
Berdasarkan geografis nya, aktivitas di Australia meningkat dua kali lipat dari tahun ke tahun karena penjualan industri dan kantor yang besar atau tercatat lebih dari USD6,3 miliar dalam investasi langsung pada kuartal tersebut.
Disusul di Jepang yang mencatatkan kenaikan transaksi menjadi USD11,8 miliar atau meningkat 51% secara tahunan, serta Korea Selatan yang mencapai USD7 miliar atau meningkat 1% secara tahunan. Pertumbuhan di kedua negara ini ditunjang oleh dana investasi real estate dan manajer investasi.
Hal ini berbanding terbalik dengan China yang mengalami penurunan investasi sebanyak 16% secara tahunan menjadi USD7,3 miliar dan Singapura turun 64% menjadi USD1,1 miliar akibat tekanan pandemi Covid-19.