Jakarta, Properti Indonesia - Bisnis perhotelan di kawasan sekitar wisata Gunung Bromo, Jawa Timur sempat mengalami dampak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi akibat percikan flare dari prewedding di Bukit Teletubbies, Gunung Bromo pada 6-18 September 2023 lalu. Akibatnya, okupansi hotel di sekitar kawasan wisata Gunung Bromo sempat drop dan mengalami penurunan okupansi.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, Dwi Cahyono mengatakan bahwa okupansi hotel di sekitar Gunung Bromo turun hingga 90 persen dan di kota sebesar 60 persen.
"Ada dampak, sekitar Gunung Bromo hampir 90 persen, di kota sekitar 60 persen," ujar Dwi Cahyono kepada Properti Indonesia, Sabtu (30/9).
Sejumlah hotel yang mengalami penurunan okupansi hotel tersebut di antaranya Pasuruan, Lumajang, Probolinggo atau sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sementara di kawasan kota yang mengalami penurunan okupansi yaitu Malang dan Surabaya.
Ditutupnya kawasan wisata Gunung Bromo mengakibatkan kerugian di sektor pariwisata dan hotel. Hal ini karena tamu-tamu hotel yang batal menginap. Sebanyak 50 persen batal datang dan 50 persen menunda kedatangan. Namun, sejak kawasan wisata Gunung Bromo dibuka kembali setelah kebakaran berhasil dipadamkan pada 19 Oktober lalu, kunjungan wisata perlahan mulai kembali normal.
Sebagai informasi,mkebaksrsn hutan dan lahan yang terjadi sekitar 989 hektar, yang tercatat oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger, dengan kerugian hampir sekitar Rp8,3 miliar.
"Apa yang terjadi di Bromo sangat kita sayangkan, prihatin, karena dampaknya sangat besar. Hotel-hotel di Bromo sekarang tingkat okupansinya di bawah 50 persen karena (dampak) kebakaran hutan," jelas Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno dalam keterangan resminya, dilansir dari laman Kemenparekraf.
Mengenai hal tersebut, pihak Kemenparekraf juga telah melakukan kajian secara menyeluruh terkait aspek CHSE (cleanliness, health, safety and environmental sustainability) di seluruh taman nasional juga destinasi wisata berbasis alam lainnya.
"Dilakukan kajian agar aspek-aspek keselamatan yang fokus pada pariwisata berkualitas dan berkelanjutan dapat berjalan dengan baik," imbuh Sandiaga.