Jakarta, Properti Indonesia - Sejumlah pengembang properti telah melaporkan kinerja sepanjang tahun 2022, dan di antaranya mengalami pertumbuhan positif meski ada juga yang merugi. Berikut adalah beberapa emiten properti yang telah mencatat pertumbuhan laba bersih dan pendapatan, berdasarkan laporan keuangan masing-masing perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Summarecon Agung Tbk
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat kenaikan laba bersih tertinggi yakni 93,19 persen atau Rp625,37 miliar. Pendapatan SMRA juga meningkat secara tahunan sebesar 2,69 persen dari Rp5,57 triliun menjadi Rp5,72 triliun di tahun 2022. Pertumbuhan pendapatan ini dikontribusi oleh segmen pengembang properti sebesar Rp3,53 triliun, kemudian disusul pendapatan properti investasi sebesar Rp1,48 triliun, dan segmen lainnya Rp709 miliar.
PT Bumi Serpong Damai Tbk
Pengembang kedua yang mencatat pendapatan tertinggi yaitu PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan mencatat peningkatan laba bersih sebesar 81,34 persen menjadi Rp2,43 triliun dari tahun sebelumnya yaitu Rp1,35 triliun. Peningkatan laba bersih ini dikontribusi oleh pendapatan usaha yang tumbuh 33,71 persen yakni Rp10,24 triliun. Dari sisi pendapatan juga tumbuh 33,71 persen menjadi Rp10,23 triliun.
Adapun segmen penjualan tanah, bangunan dan strata title BSDE tumbuh 29,05 persen dari Rp6,12 triliun di 2021 menjadi Rp7,90 triliun di 2022. Segmen tersebut merupakan kontrbusi terbesar bagi pendapatan BSDE sebesar 77,22 persen. BSDE juga memiliki segmen usaha utama yakni sewa, hotel, arena rekreasi, pengelolaan gedung, dan lain-lain.
PT Pakuwon Jati Tbk
Kemudian emiten PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatatkan laba bersih sepanjang tahun 2022 sebesar Rp1,53 triliun atau naik 11,30 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan PWON juga meningkat 4,79 persen menjadi Rp5,98 triliun. Peningkatan ini dikontribusi oleh segmen sewa ruangan mencapai Rp1,54 triliun, penjualan kondominium dan kantor Rp1,47 triliun, dan pendapatan hotel sebesar Rp857,71 miliar.
PT Metropolitan Land Tbk
Emiten PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) mencatat laba bersih sepanjang tahun 2022 sebesar Rp395,3 miliar atau meningkat 6,26 persen. Dari sisi pendapatan, MTLA mencatat kenaikan 15,5 persen dari Rp1,19 triliun dii tahun 2021 menjadi Rp1,38 triliun pada 2022. Peningkatan ini dikontribusi dari pendapatan berulang seperti mal dan hotel, kemudian program PPN DTP hingga September 2022, suku bunga bank, serta produk-produk yang dipasarkan perusahaan.
PT Ciputra Development Tbk
Selanjutnya, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menatat kenaikan laba bersih sepanjang tahun 2022 sebesar 7,51 persen atau Rp1,86 triliun. Meskipun dari sisi pendapatan mengalami penurunan 6,17 persen dari Rp9,72 triliun di tahun 2021 menjadi Rp9,12 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya penjualan kantor sebesar 45 persen menjadi Rp581,63 miliar, penjualan apartemen turun 64 persen menjadi Rp483,90 miliar. Namun, pendapatan berulang mengalami pertumbuhan menjadi Rp1,93 triliun.
PT Modernland Realty Tbk
PT Modernland Realty Tbk (MDLN) mencatat kenaikan laba bersih di tahun 2022 menjadi Rp20,17 miliar setelah sebelumnya mengalami kerugian Rp41,99 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini karena adanya penurunan beban keuangan pada utang obligasi dari Rp498,69 miliar menjadi Rp261,64 miliar. Meskipun laba bersih membaik, MDLN mencatatkan penurunan pendapatan 45,29 persen dari Rp2 triliun pada 2021 menjadi Rp1,09 triliun di 2022.
PT Agung Podomoro Land Tbk
PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) membukukan laba sebesar Rp1,99 triliun di tahun 2022 setelah sebelumnya mengalami kerugian Rp650,39 miliar pada tahun 2021. Pertumbuhan ini disebabkan adanya penjualan Mall Central park senilai Rp4,08 triliun. Kemudian dari pendapatan berulang seperti segmen jasa perhotelan dan pusat perbelanjaan sebesar Rp1,46 triliun.
PT Intiland Development Tbk
PT Intiland Development Tbk (DILD) mencatat pertumbuhan pendapatan 19,84 persen menjadi Rp3,14 triliun dari sebelumnya sebesar Rp2,62 triliun. Namun DILD mencatat rugi bersih Rp98,44 miliar dibanding dari tahun sebelumnya yang mencatat laba Rp13,1 miliar. DILD mencatatkan penjualan dari segmen high rise sebesar Rp 1,55 triliun atau naik 50,18 persen, kemudian segmen perumahan Rp 630,57 miliar atau turun 9,15 persen, dan kawasan industri sebesar Rp 246,32 miliar atau turun 106,48 persen.