Jakarta, Properti Indonesia – Kawasan The Nusa Dua yang dikelola oleh PT Pengembangan Pariwisata Indonesia/Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), mencatat tingkat hunian rata-rata atau okupansi yang meningkat lebih dari 200 persen selama semester I 2022. Okupansi kawasan selama Januari-Juni 2022 mencapai 34,02 persen, yang merupakan peningkatan sebesar 224 persen dari okupansi pada periode yang sama tahun 2021 sebesar 10,50 persen.
Adapun kunjungan wisatawan selama Januari-Juni 2022 masih didominasi oleh wisatawan domestik, yang tumbuh 185 persen menjadi 224.053 orang dari 78.720 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya. Daerah tujuan wisata (DTW) Water Blow Peninsula, salah satu spot wisata alam di The Nusa Dua, mencatat jumlah kunjungan wisatawan hampir 16.500 orang.
Managing Director The Nusa Dua, I Gusti Ngurah Ardita mengatakan, peningkatan yang didominasi oleh wisatawan domestik ini juga didukung dengan kebijakan pelonggaran mobilitas, promosi kawasan, serta adanya kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) dan event lainnya yang diselenggarakan di kawasan The Nusa Dua.
“Selain itu, kelengkapan fasilitas yang dimiliki kawasan serta pengelolaan kawasan dan hotel-hotel berbasis pada protokol kesehatan, kami yakini menjadi faktor yang mendorong kepercayaan publik untuk menginap, menghabiskan liburan, serta melakukan aktivitas MICE di kawasan The Nusa Dua,” ujar Ngurah Adita dilansir dari laman itdc.co.id, Rabu (20/7).
Sementara itu, konsultan properti Colliers Indonesia juga menjelaskan bahwa rata-rata okupansi hotel di Bali pada kuartal II 2022 sudah mulai mengalami peningkatan yang dipicu oleh tidak ada lagi karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri. Sementara, jumlah pasok kamar baru di Bali pada kuartal ini mencapai 298 kamar. Hingga akhir tahun 2022 Colliers juga memprediksi ada penambahan hingga 607 kamar hotel, sedangkan rata-rata pasokan kamar per tahun yakni 186 kamar, mulai tahun 2022 hingga 2025. Okupansi hotel di akhir tahun 2022 diprediksi meningkat menjadi 59,8 persen secara tahunan.
“Mulai banyaknya turis asing yang datang untuk berbisnis atau berwisata menjadi tambahan demand bagi hotel. Namun pemilik hotel tetap harus waspada karena kondisi masih belum stabil,” jelas Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia.