Menilik Potensi dan Peluang Baru di Pasar Properti Indonesia

Menilik Potensi dan Peluang Baru di Pasar Properti Indonesia
Kawasan Perumahan (Foto: Kementerian PKP)

Jakarta, Properti Indonesia – Pengembangan sektor properti di Asia Tenggara memasuki fase yang semakin strategis. Perkembangannya tidak lagi semata-mata bergantung pada pemulihan siklus pasar, tetapi juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor struktural, seperti fragmentasi geopolitik, diversifikasi rantai pasok, investasi infrastruktur, digitalisasi, dan standar keberlanjutan yang semakin tinggi. JLL (NYSE: JLL) menilai bahwa berbagai dinamika tersebut turut memperluas pertumbuhan sektor properti di luar Jakarta dan kelas aset tradisional. Seiring dengan itu, peluang semakin berkembang di koridor-koridor industri serta pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia. 

Perkembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Jabodetabek, Bali, Batam, dan sejumlah lokasi strategis lainnya turut menarik permintaan dari berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan, pusat data, perkantoran, serta sektor ritel dan perhotelan. Di saat yang sama, pembangunan infrastruktur utama seperti fase kedua MRT Jakarta, rencana perpanjangan jaringan kereta cepat, dan pengembangan Pelabuhan Patimban semakin memperkuat konektivitas antar kawasan serta membuka peluang bagi pertumbuhan industri yang lebih terdesentralisasi.

Jawa Tengah, khususnya Batang, Kendal, dan Semarang menjadi kota-kota strategis dalam perkembangan industri Indonesia. Dukungan infrastruktur dan meningkatnya industri manufaktur, membuat wilayah-wilayah tersebut berpotensi membentuk pola pertumbuhan industri baru di luar pusat ekonomi yang sebelumnya telah ada.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Farazia Basarah, Country Head, JLL Indonesia, bahwa Indonesia saat ini memasuki fase di mana pertumbuhan real estate beralih, tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar tetapi juga bagaimana pola aktivitas ekonomi di berbagai sektor baru.

“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia.

Dalam melihat perkembangan pasar properti, JLL mengidentifikasi tiga peluang yang bisa dikembangkan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia:

Diversifikasi Manufaktur, beberapa subpasar, serta konektivitas yang kuat antara koridor-koridor ekonomi utama turut mendorong perkembangan ekosistem sektor industrial dan logistik di Indonesia. Peluang mencakup pengembangan kawasan industri, platform investasi institusional, serta relokasi dan ekspansi perusahaan.

Pusat Data dan Infrastruktur Digital. Adopsi AI, investasi cloud, dan kebutuhan lokalisasi data mendorong permintaan terhadap pusat data. Bagi investor, sektor ini membuka peluang diversifikasi ke aset alternatif dan pemilihan lokasi strategis.

Optimalisasi dan Perubahan Fungsi Properti. Beberapa bangunan perkantoran dan gedung ritel yang sudah tua di Jakarta menghadapi tekanan untuk tetap kompetitif seiring perubahan kebutuhan pasar. Di saat yang bersamaan, fenomena ini jadi peluang untuk alih fungsi bangunan.

Meskipun Jakarta tetap memiliki peran sentral sebagai pusat bisnis dan ekonomi nasional, JLL melihat peluang pertumbuhan jangka menengah yang semakin kuat pada perluasan aktivitas ekonomi ke wilayah lain di Pulau Jawa dan kawasan lainnya di Indonesia.

“Sentralisasi dan tren flight to quality masih menjadi bagian dari dinamika pasar, begitu pula upaya meningkatkan kualitas ruang kerja untuk menarik dan mempertahankan talenta. Di sisi lain, pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara semakin mendorong agenda-agenda desentralisasi melalui pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan di kawasan perkotaan yang tengah berkembang. Ini merupakan perubahan penting di pasar yang terus kami cermati. Kami juga akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu mengembangkan kawasan yang menjaditarget mereka,” ujar Michael Glancy, Country CEO & Southeast Asia, JLL.

Untuk pengguna properti, analisis JLL menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih strategis dalam menentukan lokasi, mendorong desentralisasi, dan meningkatkan kualitas aset. Pilihan lokasi kini semakin beragam, termasuk kawasan bisnis di luar pusat kota, model operasional lintas negara, serta ruang kerja yang lebih ramah lingkungan dan selaras dengan kebutuhan talenta serta prioritas ESG.

“Sebagai bagian dari ekosistem properti di Asia Tenggara, Indonesia masih menjadi target investor, namun pasar juga menjadi semakin selektif. Ke depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh eksposur terhadap kawasan secara luas, tetapi juga oleh kemampuan investor menempatkan modal secara tepat pada koridor, sektor, dan strategi aset yang memiliki prospek terbaik,” ujar Dr. Yang Liang Chua, Head of Research & Advisory for Southeast Asia, JLL.

JLL melihat dinamika pasar properti Indonesia ke depan akan terus dipengaruhi oleh tingkat konektivitas suatu lokasi dengan koridor ekonomi, jaringan infrastruktur, ekosistem industri, serta kebutuhan perekonomian yang dinamis.

Tags
#Berita Properti #Bisnis Properti #pasar properti #konsultan properti #JLL Indonesia