Jakarta, Properti Indonesia – Beberapa waktu terakhir istilah Metaverse menjadi cukup populer bagi masyarakat digital di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Metaverse sendiri merupakan sebuah jaringan virtual di mana orang dapat bersosialisasi, bermain, bekerja, dan bahkan dapat memiliki properti pada saat ini. Beberapa pengembang properti telah menggunakan Metaverse untuk berinteraksi dengan pembeli. Namun, hadirnya platform virtual tersebut memang belum dapat sepenuhnya menggantikan aset tanah atau properti di dunia nyata.
Hal ini karena beberapa orang juga masih berasa ragu untuk menggunakan Metaverse, karena untuk membeli atau berinvestasi properti butuh pertimbangan yang matang. Serta tidak semua orang sudah mengenal atau memahami tentang Metaverse.
Kendati demikian, platform Metaverse dinilai akan memberikan dampak positif. Hal ini disampaikan oleh para ahli Colliers International, melalui laman Colliers, Jumat (1/4), bahwa Metaverse akan mampu bersinergi dengan dunia nyata untuk mendukung solusi dan model bisnis baru yang menarik bagi pemiliki, penghuni, dan investor properti.
Mengingat bahwa pasokan tanah virtual tidak terbatas, aset Metaverse akan menghabiskan sebagian kecil dari biaya tanah fisik. Sementara untuk pengembang, Metaverse dapat digunakan sebagai alat pemasaran untuk menarik minat calon pembeli terutama dari generasi baru yang mungkin kesulitan membeli properti fisik.
Head of Valuation & Advisory Services Hong Kong, Hannah Jeong menjelaskan, Metaverse akan menghadirkan tur virtual yang kemudian dapat digunakan pengembang dan investor untuk lanjut membuat kesepakatan selama Covid-19 ke tingkat yang baru. Kemudian didukung dengan alat virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) untuk memeriksa fitur dan sentuhan yang lebih halus dari properti. Hal ini memberikan manfaat bagi pasar properti residensial, karena dapat membuka pilihan dan membantu pembeli memilih hunian yang tepat.
Komunitas virtual seperti The Sandbox dan SuperWorld telah berhasil menarik minat investor, pengembang dan penghuni. Penjualan tanah virtual telah mencapai USD500 juta atau sekitar Rp7,18 triliun pada tahun 2021 dan diperkirakan meningkat pada tahun 2022.
Managing Director Occupier Services Asia, Abhishek Bajpai, juga mengatakan Metaverse tidak akan menggantikan bisnis properti fisik, seperti halnya e-commerce yang tidak sepenuhnya menggantikan ritel bata dan mortir.
“Meskipun tidak akan menggantikan bisnis properti fisik, seperti halnya e-commerce tidak sepenuhnya menggantikan ritel bata dan mortir, Metaverse menambahkan lapisan baru yang memiliki peluang potensial untuk bisnis dan investor,” ujar Abhishek Bajpai, Managing Director Occupier Services Asia. Menurutnya, Metaverse berdampak signifikan di sektor ritel, khususnya dengan menyediakan platform interaktif bagi perusahaan untuk memasarkan produknya.