Jakarta, Properti Indonesia - Arena balap pacuan kuda di Singapura, Singapore Turf Club, akan ditutup dan dikembalikan kepada Pemerintah Singapura pada tahun 2027, setelah lebih dari 180 tahun beroperasi. Hal ini karena pemerintah Singapura akan mengambil kembali lahan seluas 120 hektar tersebut untuk dijadikan kawasan perumahan umum dan swasta.
"Kami sedih dengan keputusan Pemerintah untuk menutup Klub. Pada saat yang sama, kami memahami kebutuhan tanah Singapura, termasuk perumahan dan penggunaan potensial lainnya seperti rekreasi," ujar Ketua Turf Club, Niam Chiang Meng dalam sebuah pernyataan, dilansir dari laman CNBC, Kamis (8/6).
Permintaan perumahan di Singapura juga meningkat, mendorong indeks harga properti perumahan swasta di kuartal I 2023 naik 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, arena pacuan kuda tersebut juga telah mengalami penurunan kehadiran secara langsung selama dekade terakhir. Meskipun memiliki sejarah panjang dan terkenal di Singapura.
Tempat ini merupakan satu-satunya klub pacuan kuda di Singapura yang didirikan pada tahun 1842 dan memiliki tribun lima lantai berkapasitas hingga 30.000 orang, dan beroperasi di tiga tempat mulai dari Farrer Park, Bukit Timah, dan Kranji. Klub balap saat ini menempati lahan seluas 120 hektar di Kranji, yang dibangun dengan S$500 juta atau sekitar Rp5,5 triliun (kurs Rp11.000).
Olahraga pacu kuda diperkenalkan ke Singapura pada tahun 1842, ketika pedagang Skotlandia, William Henry Maclepd Read dan beberspa peminat lainnya mendirikan Singapore Sporting Club. Mereka mengubah sepetak semi-raea di Farrer Park Singapura menjadi arena pacuan kuda. Kemudian pada 1924 berganti nama menjadi Singapore Turf Club.
Popularitas pacuan kuda tersebut meningkat pada 1933, sehingga jalurnya dipindahkan ke Bukit Timah di Singapura Barat. Pada Maret 2000, Singapore Turf Club pindah ke lokasinya saat ini di Kranji, di utara pulau.
Pemerintah Singapura mengatakan bahwa area tersebut akan dibangun kembali untuk perumahan umum dan swasta untuk memenuhi kebutuhan penggunaan tanah di masa depan.