Jakarta, Properti Indonesia – Perusahaan manajemen investasi dan layanan profesional Colliers dalam laporan terbarunya, Hospitality Insight kuartal I 2022, menyebutkan bahwa paruh kedua tahun ini akan melihat adanya pemulihan dalam perjalanan internasonal, terutama di wilayah yang mengakomodasi perjalanan bebas karantina dan rapid test.
“Kami berharap di paruh pertama 2022 menjadi redux 2021. Namun, di paruh kedua tahun ini akan melihat adanya pemulihan berkelanjutan dalam perjalanan internasional, terutama di wilayah yang mengakomodasi perjalanan bebas karantina dan membatasi rapid test,” ujar Executive Director, Valuation & Advisory Services Colliers Asia, Govinda Singh dalam siaran pers, Selasa (23/3).
Sektor perhotelan akan pulih diikuti dengan bisnis MICE, terutama di pasar dengan permintaan domestik yang kuat. Colliers menyatakan China diperkirakan outbound awal tahun 2023. Hal ini diharapkan dapat mendorong pasar yang bergantung pada China untuk berputar menuju model operasi yang berkelanjutan.
Kemudian tingkat hunian atau okupansi hotel juga diperkirakan meningkat. Pada beberapa pelaku bisnis perhotelan telah mencapai tingkat sebelum pandemi. Sementara itu, bisnis hotel di Indonesia sudah mulai terlihat membaik ketika pemerintah telah menetapkan kebijakan bebas karantina bagi wisatawan mancanegara.
Khususnya di wilayah Bali, okupansi hotel meningkat 25 persen setelah kebijakan tersebut berlaku. Sebelumnya, okupansi hotel di wilayah ini maksimal hanya 15 persen. Kemudian okupansi hotel di Lombok juga tercatat meningkat sebesar 95 persen selama perhelatan Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) di Mandalika tahun 2022.
Keterbatasan pasokan dan tenaga kerja telah memaksa para pelaku bisnis perhotelan untuk bersikap tegas pada tarif, serta menyusun strategi. Colliers merekomendasikan bagi pelaku bisnis perhotelan untuk mengembangkan model bisnis yang lebih kuat dan tangguh, fleksibel dengan biaya tetap dan untuk mengidentifikasi seberapa baik mereka mengoptimalkan aktivitas bisnis mereka.
“Menilai kembali jam operasional fasilitas F&B atau apakah ruang yang tidak terpakai dapat diubah menjadi penggunaan alternatif yang menghasilkan pendapatan akan memungkinkan pelaku bisnis perhotelan untuk mendiversifikasi penawan mereka,” jelas Govinda Singh.
Langkah selanjutnya adalah menggunakan teknologi dan digitalisasi menjadi lebih penting, terutama karena kesehatan dan kebersihan menjadi prioritas utama bagi para wisatawan yang ingin menginap.