Jakarta, Properti Indonesia – Jaringan ritel furnitur dan barang-barang rumah tangga asal Swedia, IKEA, telah menutup satu gerai di China pada tahun ini. IKEA juga berencana akan menutup gerai lainnya di distrik Yangpu, Shanghai pada awal Juli mendatang. Penutupan gerai ini sebagai respons atas perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke online selama pandemi Covid-19.
“IKEA telah melakukan analisis komprehensif tentang kelayakan jangka panjang toko di Yangpu, dan sedang mempertimbangkan untuk tidak mempertahankannya,” tulis perusahaan IKEA, dilansir dari CNN Business, Rabu (22/6).
Pada April lalu, IKEA juga telah menutup satu gerai di kota barat daya Guiyang yang hanya dua setengah tahun setelah dibuka. Selanjutnya penjualan di wilayah tersebut akan dilakukan secara online. Diketahui, IKEA mebuka gerai pertamanya di China pada tahun 1998, tepatnya Shanghai yang kini terdapat lima toko termasuk di Yangpu. Hingga saat ini IKEA telah memiliki 37 gerai di seluruh China.
Selain penutupan gerai di China, IKEA juga telah memutuskan untuk menghentikan sementara operasional hingga toko di Rusia karena invasi Moskow ke Ukraina yang masih berlanjut. IKEA mengatakan hal tersebut berdampak pada rantai pasokan di kawasan tersebut, apalagi IKEA memiliki 17 gerai di Rusia.
Sebanyak 15 ribu pekerja terdampak dan terpaksa diberhentikan, namun perusahaan tetap membayar upah hingga Agustus 2022. IKEA di Rusia juga akan menjual pabrik dan menutup kantornya.
Perusahaan induk yang mendirikan IKEA, Ingka Group juga merupakan salah satu operator mal terbesar di Rusia. Ingka Group menyatakan masih membuka 14 mallnya di negara tersebut dengan merek “MEGA”. Mal ini akan beroperasi untuk menyediakan makanan, pakaian, dan barang-barang ke Rusia.